Daerah

Warga Sering Keracunan Makanan, POSPERA TTS Pintah Dinkes Libatkan DPOM NTT

TEROPONGNTT, SOE — Keracunan makanan secara massal yang dialami masyarakat di berbagai wilayah di Kabupaten TTS akhir-akhir ini disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah daerah, terutama dinas kesehatan, dalam melakukan pengawasan terhadap beredarnya bahan makanan dan bumbu-bumbu dapur di pasaran.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPC Pospera TTS, Yerim Yos Fallo kepada media ini, Sabtu (7/12/2019).

Menurut Yerim, seharusnya pemerintah daerah (pemda) dan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS berkoordinasi dengan BPOM NTT untuk melakukan pengawasan dan penertiban bahan makan dan bumbu dapur yang beredar di pasar ataupun pedagang asong. Sehingga, makanan dan bumbu dapur yang sudah kedaluarsa bisa dilakukan pemusnahaan.

“Saya perhatikan belum ada upaya pengawasan yang maksimal dari pemerintah daerah dan dinas kesehatan dengan melibat DPOM NTT, untuk mengecek bahan makanan dan bumbu dapur baik yang dijual di kios-kios, toko maupun yang beredar di pasar-pasar yang ada di Kabupaten TTS,” terang Yerim.

Yerim menyayangkan beberapa kali Bupati TTS menetapkan kejadian luar biasa (KLB) mengenai keracunan makanan yang dialami oleh masyarakat TTS.

“Bebeapa kali warga terkena keracunan makanan, bupati hanya menepatkan KLB dengan upaya penanganan. Tapi pasca kejadian tersebut, belum pernah ada upaya pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan, melakukan upaya pengawasan dengan melibatkan DPOM NTT,” ucap Yerim.

Yerim menduga, wilayah TTS menjadi sarang beredarnya makanan, bumbu dan makanan ringan yang sudah habis masa berlakunya, tetapi masyarakat tidak pernah tahu akan hal tersebut.

Harusnya kata dia, dinas kesehatan melalui bidang pengawasan makanan dan obat-obatan melakukan pengawasan dan upaya pencegahan beredarnya bahan-bahan yang sudah kadaluarsa untuk dimusnakan dari peredarannya.

“Ini bukti lemahnya pengawasan dan pencegahan. Sehingga kami menganggap bahwa Kadis Kesehatan tidak mampu untuk melakukan hal tersebut. Oleh karena, kalau kadis tidak mampu baiknya diganti saja. Jangan biarkan masyarakat TTS menjadi korban keracunan massal secara terus menerus,” pungkas Yerim.

Sementara Kadis Kesehatan TTS, dr. Eiren Ate hingga berita ini diturunkan belum berhasil dihubungi.

Untuk diketahui, hingga Desember 2019 sudah terdapat kurang lebih lima (5) kasus keracunan makanan, diantaranya 12 warga Kota Soe yang menderita keracunan setelah mengkonsumsi bubur ayam. Keracunan makanan juga terjadi di Kecmaatan Amanuban Selatan dengan  103 orang penderita dan 1 orang meninggal dunia.

Keracunan kembali terjadi di kecamatan Noebeba dengan jumlah penderita 93 orang dan Jumat kemarin 6 orang bocah di Desa Polo Kecamatan Amanuban Selatan kembali menderita keracunan setelah mengkonsumsi makanan ringan jenis bikuit.

(PR)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top