Daerah

Transaksi Digital Menggunakan QRIS Jadi Pilihan Tepat Ditengah Ancaman Covid-19

TEROPONGNTT, KUPANG – Penyebaran Coronavirus yang berlangsung cepat benar-benar membuat dunia panik, termasuk bangsa Indonesia. Sejumlah negara bahkan memberlakukan keputusan lockdown (karantina wilayah), untuk menutup akses keluar-masuk warganya guna menghentikan penyebaran penyakit Covid-19 (Coronavirus Disease 2019), meskipun pemerintah Indonesia lebih memilih memberlakukan social distancing (pembatasan social) sebagai upaya menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular tersebut.

Seperti dirilis alodokter.com, seseorang dapat tertular dan terserang penyakit Covid-19 melalui berbagai cara yaitu; tidak sengaja menghirup percikan ludah dari bersin atau batuk penderita Covid-19, memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan air liur penderita Covid-19, dan atau kontak jarak dekat dengan penderita Covid-19 seperti bersentuhan atau berjabat tangan.

Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil, orang yang sedang sakit, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah. Tidak sedikit manusia di dunia dilaporkan meninggal dunia akibat terserang penyakit Covid-19.

Yang juga tak kalah mencemaskan, ada kemungkinan uang kertas bisa juga menjadi benda perantara atau media perantara penularan Coronavirus. Lembaran uang yang terkena cipratan air liur penderita Covid-19,  jika disentuh atau dipegang, kemudian kita memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, maka dengan sendirinya kita menjadi terinfeksi dan terpapar virus berbahaya tersebut.

Seperti dirilis pula oleh Bisnis.com, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO/World Health Organization) menyarankan masyarakat menghindari penggunaan uang kertas, menyusul maraknya penyebaran virus corona atau Covid-19.  WHO juga mendorong orang untuk menggunakan opsi pembayaran digital.

“Kami tahu bahwa uang sering berpindah tangan dan dapat menyimpan semua jenis bakteri dan virus. Kami akan menyarankan orang untuk mencuci tangan setelah memegang uang kertas dan menghindari menyentuh wajah mereka,” kata seorang perwakilan WHO seperti dikutip dari USA Today yang dirilis kembali oleh Bisnis.com.

WHO tidak menyebutkan bahwa uang secara spesifik terkait dengan Coronavirus  yang menyebabkan seseorang menderita penyakit Covid-19.  Namun, agensi itu menyarankan untuk menggunakan pembayaran tanpa kontak guna mengurangi risiko penularan, karena Coronavirus dapat bertahan hidup di permukaan keras (uang kertas). Badan kesehatan dunia itu mengingatkan agar jangan mengambil risiko yang bisa menimbulkan penularan.

Sementara itu, sejak Januari 2020, Bank Indonesia (BI) gencar mensosialisasikan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standar (QRIS) dalam transaksi digital.  Bahkan, Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT mewajibkan penjual (merchant) atau pedagang untuk mengganti kode pembayaran dengan menggunakan QRIS sebagai aplikasi system pembayaran digital yang memungkinkan masyarakat dapat melakukan transaksi online pada semua aplikasi jasa pembayaran digital hanya dengan satu Quick Response (QR) Code saja.

Kepada wartawan usai kegiatan Sosialisasi Sistem Pembayaran Menggunakan QRIS di Pusat Oleh-Oleh NTT C&A Sentra Kuliner Kupang, Selasa (10/3/2020), Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT, I Nyoman Ariawan Atmaja sempat menyinggung soal adanya kekuatiran masyarakat terhadap kemungkinan uang kertas bisa menjadi media penularan coronavirus. Kekuatiran ini wajar karena uang selalu berpindah tangan dari seseorang kepada orang lain.

Untuk menghindarinya,  Ariawan Atmaja menyebutkan, transaksi online menggunakan system pembayaran digital bisa juga menjadi pilihan selain menggunakan uang kertas. Apalagi, ketika upaya mengurangi atau membatasi penyebaran coronavirus dilakukan dengan penerapan kebijakan social distancing (pembatasan social), yang mengharuskan seseorang menjaga jarak  social dengan orang lain hingga satu meter atau lebih.

Sementara melaui siaran pers yang dikeluarkan BI Perwakilan NTT, Kamis (19/3/2020), Deputi Kepala Perwakilan BI NTT, Rut W. Eka Trisilowati menyatakan, di bidang pengedaran uang, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTT telah menetapkan langkah-langkah untuk memastikan bahwa uang Rupiah yang didistribusikan kepada masyarakat adalah uang Rupiah yang telah melalui proses pengolahan khusus guna meminimalisir penyebaran Covid-19, yaitu: melakukan pengkondisian terhadap setoran uang yang diterima dari perbankan/PJPUR berupa karantina selama 14 (empat belas) hari dan dilanjutkan dengan proses penyemprotan disinfektan sebelum dilakukan pengolahan dan didistribusikan kembali kepada masyarakat, memperkuat higienitas dari SDM dan perangkat yang digunakan dalam pengolahan uang Rupiah, melakukan koordinasi dengan perbankan/PJPUR untuk menerapkan langkah-langkah dalam pengolahan uang Rupiah dengan memerhatikan aspek K3 (Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan Kerja) dari sisi SDM maupun perangkat pengolahan uang Rupiah. Kebijakan ini merupakan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang diterapkan di seluruh Kantor Perwakilan Bank Indonesia.

Ke depan, menurut Rut W Eka Trisilowati, Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT bersama dengan pemerintah daerah (Pemda) dan otoritas lainnya, akan tetap mencermati dan memantau perkembangan penyebaran Covid-19  dan tetap  berkomitmen untuk melaksanakan pelayanan terbaik bagi masyarakat Nusa TenggaraTimur

Jika demikian kenyataannya, tentulah transaksi digital menggunakan QRIS bisa menjadi pilihan tepat ditengah ancaman Covid-19. Meskipun langkah-langkah untuk memastikan bahwa uang Rupiah yang didistribusikan kepada masyarakat adalah uang Rupiah yang telah melalui proses pengolahan khusus guna meminimalisir penyebaran Covid-19, telah dilakukan Bank Indonesia.

(max/berbagai sumber)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top