Daerah

Pertumbuhan Ekonomi NTT Alami Perlambatan di Triwulan I Tahun 2020

TEROPONGNTT, KUPANG — Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 2,95 – 3,35% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 5,20% (yoy), sebagai dampak COVID-19. Perlambatan ekonomi yang terjadi pada triwulan I tahun 2020 diprakirakan berlanjut pada triwulan II tahun 2020.

Demikian dijelaskan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur (NTT),  I Nyoman Ariawan Atmaja pada Virtual Meeting Sasando Dia (Sante-Sante Baomong deng Media) yang digelar bersama oleh Perwakilan BI NTT, OJK NTT dan Kanwil Kemenkeu NTT menggunakan aplikasi Zoom, Selasa (19/5/2020). Pada acara virtual meeting yang dipandu Ketua ISEI Cabang Kupang, James Adam sebagai moderator ini, juga menjadi pemateri yakni Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Robert H.P Sianipar, dan Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi NTT, Lidya Kurniawati Christyana.

Menurut I Nyoman Ariawan Atmaja, pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) akan kembali membaik pada triwulan III dan triwulan IV tahun 2020, dengan asumsi pelonggaran kebijakan physical distancing telah dimulai pada triwulan III tahun 2020. Pasalnya, kebijakan physical distancing telah berdampak menurunkan pendapatan dan daya beli masyarakat.

“Perekonomian Provinsi NTT pada triwulan I tahun 2020 tumbuh 2,84% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV tahun 2019 dan pencapaian nasional. COVID-19 yang melanda Tiongkok pada awal tahun 2020, meluas ke berbagai negara dan ditetapkan sebagai pandemi sejak Maret 2020. Kondisi tersebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional dan NTT, tercermin dari penurunan komponen-komponen pembentuk PDRB pada triwulan I 2020,” kata Nyoman.

Terjadinya wabah COVID-19, jelas Nyoman, mengakibatkan pendapatan daerah dan penyerapan anggaran yang tidak seoptimal tahun-tahun sebelumnya. Pendapatan daerah NTT masih didominasi oleh Dana Alokasi Umum (DAU), yang mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2019 akibat refocusing anggaran oleh Kementerian Keuangan. Penerimaan Asli Daerah serta penyerapan anggaran patut dimaksimalkan untuk mendorong ekonomi NTT yang lesu akibat COVID-19

Pada bulan April 2020, Provinsi NTT mengalami inflasi sebesar 0,07% (mtm), meningkat dibandingkan dengan bulan Maret 2020 yang deflasi -0,59% (mtm). Inflasi terutama disumbang oleh komoditas kelompok makanan dan perawatan pribadi dan jasa lain di tengah deflasi kelompok transportasi,” katanya.

Transaksi pembayaran tunai pada triwulan I tahun 2020, jelas I Nyoman Ariawan Atmaja, menunjukkan kondisi net infflow sebesar Rp2,61 triliun, sesuai dengan pola historis tahunan. Kegiatan layanan kas untuk memenuhi kebutuhan uang Rupiah layak edar juga terus dilakukan, tercermin dari peningkatan pengiriman uang ke sembilan kas titipan serta pemusnahan uang tidak layak edar dalam rangka meningkatkan soil level. Di sisi lain, indikator sistem pembayaran nontunai cenderung mengalami penurunan.

Kondisi ketenagakerjaan Provinsi NTT di Triwulan I tahun 2020, jelas Nyoman, relatif stabil. Lebih dari setengah tenaga kerja NTT masih bekerja di sektor pertanian. Tingkat pengangguran sedikit menurun, meskipun tingkat setengah pengangguran perlu menjadi perhatian. Sementara itu, nilai tukar petani menurun tajam di Triwulan I tahun 2020 yang diakibatkan oleh pergeseran musim tanam dan panen. Penurunan NTP ini dapat berdampak pada kenaikan tingkat kemiskinan di tahun 2020.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top