Daerah

Peringatan Hari HAM Sedunia di Kupang Diwarnai Aksi Seribu Lilin

TEROPONGNTT, KUPANG – Peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia di Kota Kupang diwarnai aksi menyalakan seribu lilin di Tugu HAM yang beralamat di jalan Ikan Paus LLBK Kupang, Sabtu (10/12/2016) malam.  Aksi seribu lilin yang diprakarsai Forum Peduli Kemanusiaan Kupang ini ikuti utusan lintas agama dan pegiat LSM.

Menurut catatan sejarah, Tugu HAM Kupang dibangun sejak tahun 1945 dan diresmikan langsung oleh Presiden RI pertama, Ir Soekarno. Berdasarkan alasan itulah, Forum Peduli Kemanusiaan Kupang memilih Tugu HAM sebagai lokasi aksi menyalakan seribu lilin dalam memperingati hari HAM Sedunia. Seribu lilin sebagai bentuk kesedihan dan duka atas pelanggaran HAM yang masih banyak terjadi di bumi Flobamora ini.

Selain menyalakan seribu lilin, Forum Peduli Kemanusiaan Kupang bersama utusan lintas agama dan pegiat LSM juga gelar Renungan Bersama tentang pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia terutama di wilayah NTT.  Dalam renungan terungkap berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia, seperti kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, kasus perdagangan orang, kasus kemerdekaan beragama dan kebebasan penyampaikan pendapat.

Khusus di wilayah Provinsi NTT, pelanggaran HAM terbanyak terjadi dalam kasus perdagangan orang dan eksploitasi tenaga kerja. Setidaknya, terungkap, hingga akhir tahun 2016 tercatat sebanyak  56 TKI Indonesia asal NTT dipulangkan dalam keadaan tidak bernyawa atau meninggal dunia. Penyebab tewasnya para TKI, umumnya karena mendapat perlakuan kasar saat bekerja di luar negeri.

“Pemerintah NTT melalui gubernur harus membuka mata terkait beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini. Selama ini pemerintah masih dalam tatatan wacana. Kita butuh solusi strategis di dalam perencanaan pembangunan. Sebab perdagangan manusia terjadi karena kemiskinan di masyarakat,” kata Direktur Yayasan Rumah Solusi Kupang, Yahya Ado sebagai salah satu pegiat LSM.

Masyarakat kita, kata Yahya, cendrung tertarik dengan iming-iming bahwa bekerja di luar negeri akan mendapatkan gaji yang besar. Padahal yang terjadi justru sebaliknya dan bahkan ada yang harus mati di tanah orang.  Karena itu, pemerintah harus menyiapkan lapangan kerja dan memaksimal potensi yang ada di desa guna meningkatan ekonomi  warga.

“Perlu ada pelatihan ketrampilan bagi warga sesuai potensi apa yang mereka miliki di desa. Masyarakat perlu menuntut bahkan menggunggat agar masalah kemanusiaan diselesaikan secara serius. Harga nyawa tak semurah potongan kain yang dibawa ke kubur,” kata Yahya. (nia)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top