Daerah

Perempuan Indonesia Timur Prihatin Dengan Kasus Perdagangan Orang di NTT

TEROPONGNTT, KUPANG – Kasus perdagangan orang di Indonesia terutama di Provinsi NTT masih tergolong tinggi. Perkumpulan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) merasa prihatin dengan kasus perdagangan orang ini dan mendesak pemerintah untuk lebih aktif melakukan pencegahan dan penanganan perdagangan orang, serta pemulihan dan reintegrasi korban ke keluarga dan masyarakat.

Demikian dikatakan Ketua JPIT, Pdt. Ina Bara Pa, S.Th saat membacakan pernyataan keprihatinan dan seruan JPIT dalam jumpa pers yang digelar JPIT di Restaurant Pantai Wisata Lasiana Kupang, Sabtu (6/5/2017) malam. Jumpa pers digelar usai acara penutupan Rapat Umum Anggota (RUA) Perkumpulan JPIT yang digelar selama tanggal 4-6 Mei 2017 di di Susteran Belo Kupang.

Ketua JPIT, Pdt. Ina Bara Pa, S.Th mengatakan, perkumpulan JPIT beranggotakan perempuan dari berbagai etnis dan agama yang mencakup seluruh wilayah Indonesia Timur, mulai dari Kalimantan Timur, Sulawesi, Bali-Nusra hingga Maluku dan Papua.

JPIT juga menyerukan kepada organisasi agama-agama, kata Pdt Ina, agar lebih peka dan bergerak bersama melawan perdagangan orang serta berpihak terhadap korban dan keluarga. Selain itu, JPIT juga menyerukan kepada pemerintah, agar melakukan revisi terhadap Perda Pekerja Migran yang belum berpihak terhadap pekerja migran dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti korban, keluarga dan stakeholders yang mengadvokasi persoalan perdagangan orang.

JPIT, tambah Pdt Ina, juga mendesak aparat penegak hukum untuk sungguh-sungguh berupaya membongkar sindikat mafia perdagangan orang dan memberi layanan hukum yang adil bagi korban dan keluarganya. JPIT berharap pernyataan keprihatinan dan seruan tersebut mendapat perhatian pemerintah dan pihak-pihak terkait sehingga kasus perdagangan orang bisa diminimalisir.

Pada kesempatan ini, kata Pdt, JPIT menyerukan upaya merawat keberagaman di Indonesia, penolakan terhadap eksploitasi alam, pemenuhan hak ekonomi sosial budaya perempuan, penolakan terhadap militerisme dan kekerasan serta peran media. JPIT bahkan menyatakan prihatin terhadap media yang bias bahkan menjadi provokator dalam ujaran kebencian dan kekerasan dalam pemberitaan. (nia)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top