Ekbis

Pengusaha Kapal Keluhkan Antrian Bongkar Muat di Pelabuhan Tenau Kupang, Begini Jawaban PT. Pelindo III Kupang

FOTO : Manajer Pelayanan Terminal PT. Pelindo III Pelabuhan Tenau Kupang, Indra Mahardika

TEROPONGNTT, KUPANG – Pengusaha kapal mengeluhkan sistem antrian bongkar muat di Pelabuhan Tenau Kupang. Pasalnya, kadang-kadang ada kapal yang sudah selesai bongkar muat tetapi tetap sandar di dermaga pelabuhan, sehingga kapal lain tidak bisa sandar untuk segera melakukan bongkar muat.  Namun fakta ini dibantah pihak PT. Pelindo III Pelabuhan Tenau Kupang.

Sesuai informasi yang diterima wartawan Teropongntt.com, pihak pengusaha kapal meminta managemen PT. Pelindo III yang mengelola Pelabuhan Tenau Kupang bisa memperbaiki system bongkar muat di pelabuhan tersebut. Karena, sistem antrian  bongkar muat seperti ini tentu merugikan pengusaha kapal yang antrian di urutan berikutnya.

Menanggapi hal ini, Manajer Pelayanan Terminal PT. Pelindo III Pelabuhan Tenau Kupang, Indra Mahardika yang dikonfirmasi di kantornya, Rabu (23/9/2020), menjelaskan bahwa, sistem bongkar muat kapal di Pelabuhan Tenau Kupang ada alurnya.  Penentuan kapal mana yang terlebh dahulu melakukan bongkar muat pun diputuskan melaui meeting P2T  atau Rapat Penetapan Pelayanan Terpadu (P2T).

“Untuk system bongkar muat di pelabuan, kami ada yang namanya meeting P2P. Pada meeting P2P dibahas mulai dari perencanaan tambat kapal, perencanaan kegiatan bongkar muat dari masing-masing kapal, berapa lama bongkar muat akan dilakukan, sampai kesepakatan urutan kapal yang akan melakukan bongkar muat. Jadi sudah ada kesepakatan bersama karena meeting P2P dihadiri perusahaan pelayaran yang akan melakukan kegiatan bongkar muat,” jelas Indra.

Bila kegiatan bongkar muat selesai lebih cepat dari perkiraan atau estimasi waktu sebelumnya, kata Indra, kapal langsung keluar dari dermaga sehingga kapal urutan berikutnya bisa langsung merepat dan sandar di dermaga pelabuhan untuk melakukan kegiatan bongkar muat.  Tidak harus menunggu sampai lama waktu  bongkar muat yang disepakati selesai.

“Sebagai contoh, kita perkirakan sebuah kapal mmbutuhkan waktu bongkar muat sekitar 6 hari, tetapi kalau dalam 4 hari sudah selesai bongkar muat, kapal bisa langsung keluar dari pelabuhan agar kapal berikutnya bisa sandar dan melakukan kegiatan bongkar muat,” jelas Indra.

Oleh karena itu, Indra membantah jika ada kapal yang dibiarkan lama sandar di pelabuhan meski sudah selesai kegiatan bongkar muat, sehingga merugikan kapal lain karena lamanya antrian untuk melakukan kegiatan bongkar muat.  Jika kapal yang telah melakukan kegiatan bongkar muat tetapi tetap dibiarkan sandar di dermaga pelabuhan, justru pihak PT. Pelindo III juga akan mengalami kerugian karena PT. Pelindo III tidak mendapatkan pemasukan atau penerimaan dari kapal berikutnya akibat belum sandar di pelabuhan.

Menyingung soal penetuan urutan kapal  yang mungkin dipengaruhi oleh kesiapan perusahaan bongkar muat  (PBM) atau bahkan mungkin PT. Pelindo III memiliki PBM sendiri sehingga menjadi prioritas dalam penentuan urutan kapal dalam kegiatan bongkar muat, Indra mengatakan, PT. Pelindo III Pelabuhan Tenau Kupang sebagai pengelola pelabuhan, bekerja sesuai peraturan yang ada dan professional  Sistem bongkar muat harus dilaksanakan sesuai aturan agar semua bisa berjalan lancer.

“Menyangkut penentuan kapal mana yang harus lebih dahulu melakukan bongkar muat sudah disepakati bersama perusahaan pelayaran pada meeting P2P. Tentunya sudah melalui koordinasi dengan PBM dan memperhitungkan kesiapan dan jenis peralatan yang digunakan untuk mendukung kegiatan bongkar muat,” kata Indra.

Semua kapal yang melakukan kegiatan bongkar muat, jelas Indra, juga sudah mengantongi semua persyaratan administrasi perijinan. Sehingga tida ada masalah lagi ketika melakukan kegiatan bongkar muat, serta sudah melaui pemeriksaan oleh instansi terkait seperti oleh kantor kesehatan pelabuhan (KKP) Kupang, bea cukai, KSOP Kupang dan lainnya.

“Begitu pula dengan kapal penumpang. Kalau sudah turunkandan naikan  penumpang, seperti kapal Pelni, pasti langsung keluar dari pelabuhan. Kalau kapal cepat, biasanya sore sudah lakukan pelayaran lagi. Tapi kalau belum lakukan pelyaran, kapal cepat biasanya parir di dermaga lokal, supaya tidak menghalangi kapal lain yang akan sandar,” jelas Indra.

Hanya memang, diakui Indra, kapal penumpang dan kapal yang memuat bahan kebutuhan pokok (sembako) lebih diprioritaskan untuk kegiatan bongkar muat.   “Kalau saat ini aktifitas bongkar muat sudah normal kembali, setelah sempat sepi akibat pandemic Covid-19.  Kita terus berusaha untuk member pelayanan sesuai aturan,” katanya.

Sementara menyinggung soal fasilitas yang mendukung cepatnya kegiatan bongkar muat khusus kontener, jelas Indra, Pelabuhan Tenau Kupang memang memiliki Container Crane. Container Crane adalah kran yang digunakan untuk membongkar atau memuat peti kemas dari dan ke dermaga (ke kapal peti kemas) atau memindahkan peti kemas dari satu tempat ke tempat lain di dalam terminal peti kemas.

Dengan menggunakan Container Crane, kata Indra, kegiatan bongkar muat peti kemas akan lebih cepat dibanding peralatan lain yang dilakukan secara manual. Sebagai contoh, Kapal Meratus yang memuat 1.100 box peti kemas, hanya membutuhkan waktu 1,5 hari atau satu setengah hari untuk menyelesaikan kegiatan bongkar muatnya.

Hanya memang diakui Indra, peralatan yang ada bisa saja mengalami gangguan atau rusak sehingga dapat mempengaruhi kecepatan aktivitas bongkar muat.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top