Daerah

OJK NTT Gelar Workshop Khusus bagi Pejabat Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Bidang Perkreditan, Ini Alasannya..

TEROPONGNTT, KUPANG – Berdasarkan data perbankan untuk posisi Juli 2019, tingkat pertumbuhan kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Provinsi NTT masih di bawah perbankan secara umum. Perbankan di Provinsi NTT tercatat tumbuh Year to Date (YtD) sebesar 7,86% sedangkan BPR hanya tumbuh sebesar 5,12%, dimana terdapat BPR yang tidak mencetak pertumbuhan kredit (minus growth).

Hal ini dikatakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTT, Robert Sianipar saat membuka kegiatan Workshop Strategi Penyaluran dan Analisa Kredit Dalam Rangka Optimalisasi Peran BPR Untuk Meningkatkan Ekonomi NTT yang digelar di aula kantor OJK tersebut, Jumat (13/9/2019). Kegiatan workshop diikuti 36 peserta dari 12 BPR yang ada di wilayah Provinsi NTT.

“Selain itu, kualitas kredit yang disalurkan BPR memiliki tingkat rasio NPL yang tinggi yaitu sebesar 4,53% apabila dibandingkan dengan rasio NPL bank umum sebesar 2,42%. Rendahnya pertumbuhan kredit dan rendahnya kualitas kredit bila dibandingkan dengan perbankan di Provinsi NTT, kata Robert Sianipar, terutama dikarenakan beberapa hal,” kata Robert Sianipar.

Pertama, kata Robert Sianipar, penyaluran kredit yang berpedoman pada Rencana Bisnis Bank tidak dapat dieksekusi dengan baik, yang disebabkan oleh tidak mampunya BPR dalam menyusun pipeline kredit dan rencana penyaluran yang terstruktur dan terukur, baik dari segi segmentasi kredit maupun target pemasaran.

Kedua, kata Robert Sianipar, BPR belum sepenuhnya menerapkan analisa kredit dengan penerapan 5C (character, capacity, capital, collateral, condition) terutama kredit produktif. Sementara factor ketiga adalah, proses pemberian kredit dalam struktur perkreditan (AO, PE kredit, pemutus kredit, administrasi kredit, penagihan kredit, dan penyelesaian kredit) tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan Pedoman Perkereditan BPR.

Selain itu, menurut Robert Sianipar, BPR perlu memperhatikan penerapan program APU & PPT sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/POJK.01/2017 tentang Penerapan Program APU PPT di Sektor Jasa Keuangan. SIGAP merupakan sistem berbasis web yang dibangun untuk mengintegrasikan data dan informasi terkait hasil pengawasan program APU PPT dan menjadi sumber data pendukung untuk penerapan program APU PPT.

“SIGAP dibangun untuk mendukung implementasi pengawasan program APU PPT dalam rangka menjawab rekomendasi FATF no. 33 terkait Statistik dan mendukung implementasi pengawasan program APU PPT berdasarkan POJK Nomor 12/POJK.01/2017 tentang Penerapan Program APU PPT di Sektor Jasa Keuangan,” kata Robert Sianipar.

Dikatakan Robert Sianipar, SIGAP telah dibangun sejak tahun 2017 untuk keperluan internal OJK. Dan, saat ini sedang dilakukan pengembangan SIGAP tahap II yang mencakup pertukaran informasi dengan PJK dan diharapkan dapat memperluas dan meningkatkan akses terhadap pertukaran data dan informasi terkait program APU PPT baik untuk internal maupun eksternal OJK.

Atas hal tersebut, kata Robert Sianipar, maka digelarlah Workshop tentang Strategi Penyaluran dan Analisa Kredit Dalam Rangka Optimalisasi Peran BPR Untuk Meningkatkan Ekonomi NTT tersebut. Tujuannya, agar target kredit yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis BPR dapat dilaksanakan secara terukur dan terstruktur, dan analisa kredit yang dilakukan dapat menggambarkan kondisi calon debitur secara akurat sehingga keputusan kredit dapat diambil dengan tepat.

Robert Sianipar berharap, para peserta dapat mengikuti kegiatan workshop dengan serius sehingga membawa manfaat bagi pertumbuhan kredit di BPR masing-masing yang kemudian bisa berdampak para peningkatan ekonomi masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Apalagi dalam kegiatan workshop ini juga ditampilkan pula studi kasus terkait analisa dan proses pemberian kredit dalam struktur perkreditan (AO, PE kredit, pemutus kredit, administrasi kredit, penagihan kredit, dan penyelesaian kredit) dengan mengacu pada ketentuan perkreditan/best practice, dan/atau Pedoman Perkreditan BPR.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top