Daerah

Mulai 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) Gunakan Diagram Timbang Baru Dalam Perhitungan IHK dan NTP

TEROPONGNTT, KUPANG – Mulai tahun 2020, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan Diagram Timbang Paket Komuditas 2018=100 dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Nilai Tukar Petani (NTP). Paket komuditas baru ini, menggantikan diagram timbang paket komuditas 2012=100 yang digunakan sebelumnya.

Hal ini diungkapkan Kepala BPS Provinsi NTT, Darwis Sitorus pada kegiatan Sosialisasi Pemutakhiran Diagram Timbang Indeks Harga Tahun Dasar 2018 di aula Lantai II Gedung Kantor BPS Provinsi NTT, Kamis (30/1/2020). Kegiatan sosialisasi dibuka dan dibawakan langsung oleh Kepala BPS Provinsi NTT, Darwis Sitorus, serta diikuti puluhan wartawan dan perwakilan dari instansi terkait lainnya.

Darwis Sitorus mengatakan, pemuthakiran diagram timbang ini sejalan dengan perubahan pola produksi, biaya produksi, dan konsumsi rumah tangga pertanian dalam kemajuan pembangunan dan perkembangan kehidupan masyarakat. Pemuthakiran diagram timbang juga perlu dipahami masyarakat secara luas termasuk insan pers.

“Angka inflasi yang dirilis BPS setiap bulan, selama ini dihitung berdasarkan perubahan IHK sesuai Diagram Timbang Indeks Harga Tahun Dasar 2012. Namun, dengan adanya perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat, perhitungan IHK yang lama menjadi tidak relevan lagi untuk digunakan. Inilah alasannya, mengapa BPS secara rutin melakukan pemutakhiran diagram timbang sesuai perkembangan jaman,” kata Darwis Sitorus.

Menurut Darwis Sitorus, perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Nilai Tukar Petani (NTP) menggunakan Diagram Timbang Paket Komuditas 2018=100 sudah sesuai standar internasional yang mengacu pada Classification of Individual Consumption According to Purpose (COICOP). Sehingga menjadi makin akurat hasilnya.

Dijelaskan Darwis Sitorus,  ada perbedaan dalam melakukan survei menggunakan Paket Komuditas 2018=100 dibanding Paket Komuditas 2012=100. Pertama, cakupan kota inflasi di NTT yang sebelumnya cuma Kota Kupang dan Maumere, kini bertambah menjadi tiga kota yakni Kota Kupang, Maumere dan Waingapu.

Kedua, cakupan sampel juga bertambah dari sebelumnya yang hanya 2.800 rumah tangga menjadi 4.000 rumah tangga. Ketiga, komoditas yang disurvei juga bertambah dari sebelumnya 390 komoditas untuk Kota Kupang meningkat menjadi 404 komoditas, untuk Kota Maumere meningkat dari 318 komoditas menjadi 329 komuditas, dan untuk Kota Waingapu sebanyak 249 komoditas.

“Perhitungan menggunakan Paket Komuditas 2018=100 mulai digunakan terhitung Februari 2020, sehingga akurasi data diharapkan juga meningkat,” tambah kata Darwis Sitorus.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top