Opini

Memandang Corona Dari Perspektif Keperawatan Keluarga

# Oleh : Yohanes Dion, S.Kep.,Ns.,M.Kes. (Departemen Keperawatan Komunitas Universitas Citra Bangsa Kupang)

TEROPONGNTT, KUPANG — Merebaknya Covid-19 (corona/korona) selama hampir 2 tahun terakhir setidaknya memberikan warna baru dalam hal mengubah cara pandang masyarakat terhadap pentingnya kesehatan. “Lebih baik mencegah dari pada mengobati”; kurang lebih itulah adegium yang cocok untuk mewakili prinsip masyarakat dalam menghadapi virus korona. Masyarakat hampir semua mulai terbiasa untuk mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, adanya kesadaran diri untuk isolasi mandiri jika ada gangguan pernapasan, menghidari kerumunan dan proaktif dalam mengikuti program vaksin Covid-19. Luar biasa bukan!

Capaian promosi kesehatan (promkes) sungguh amat luar biasa pada tahun ini. Mengaplikasikan strategi promkes dalam proses pemberian Asuhan Keperawatan pada pasien Covid-19 di Rumah Sakit serta Asuhan Keperawatan Komunitas (perawatan kesehatan masyarakat / PERKESMAS) di Puskesmas, terkesan menjadi sangat efektif karena dapat mengaktifkan kerja sama lintas sektor dan program dan menimbulkan pergerakan masyarakat yang luar biasa dalam menciptakan mekanisme pertahanan diri pada keluarga dan komunitas terhadap serangan virus korona dengan fokus pendekatannya adalah keluarga.

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Keluarga memegang peranan penting dalam usaha meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Interaksi dan peran memberikan dampak yang luar biasa dalam perkembangan Covid-19. Kemiskinan dan pendidikan beririsan dengan kesehatan. Oleh karena itu, NTT dipandang sebelah mata dalam usaha mencegah korona karena berkaitan dengan ketiga hal tersebut, dan ternyata betul bahwa kita termasuk dalam daerah dengan angka penularan tertinggi di Indonesia. Oleh karena itulah keluarga dianggap sebagai subyek utama dalam pemberantasan Covid-19, selain karena semua orang memiliki peran yang potensial, keluarga juga bisa memberikan pengaruh yang besar terhadap masyarakat.

Berikut ini merupakan latar belakang mengapa keluarga dijadikan sebagai sasaran pelayanan keperawatan (Ferry Efendi & Makhfudli, 2009): 1). Keluarga dipandang sebagai sumber daya kritis untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan; 2). Keluarga dipandang sebagai satu kesatuan dari sejumlah anggota keluarga, berada dalam satu ikatan dan saling memengaruhi; 3). Hubungan yang kuat dalam keluarga dengan status kesehatan anggotanya. Peran keluarga sangat penting dalam tahap-tahap perawatan kesehatan, mulai dari tahapan peningkatan kesehatan, pencegahan, pengobatan, sampai dengan rehabilitasi; 4). Keluarga sebagai tempat penemuan kasus dini. Adanya masalah kesehatan pada salah satu anggota keluarga akan memungkinkan munculnya faktor resiko pada anggota keluarga yang lainya; 5). Individu dipandang dalam konteks keluarga. Seseorang lebih dapat memahami peran dan fungsinya apabila ia dipandang dalam konteks keluarga; 6). Keluarga sebagai sumber dukungan sosial bagi anggota keluarga lainya. Dukungan sosial sangat diperlukan oleh setiap individu di dalam setiap siklus kehidupanya. Dukungan sosial akan semakin dibutuhkan pada saat seseorang sedang menghadapi masalah atau sakit, disinilah peran anggota keluarga diperlukan untuk menjalani masa-masa sulit dengan tepat. Kita menjadi lupa bahwa untuk masalah penyakit Covid-19, keluarga merupakan jawaban satu-satunya.

Friedman (1998) mengidentifikasi tugas keluarga dalam bidang kesehatan, yang terbagi atas lima bagian, yaitu; 1). Mengenal masalah kesehatan; 2). Mengambil keputusan; 3). Merawat anggota keluarga yang sakit; 4). Memodifikasi lingkungan; 5). Memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Pertama; dengan merebaknya korona membuat rasa cemas dan takut warga meningkat hingga sampai pada munculnya usaha pengucilan terhadap orang yang sakit dengan ciri korona. Hal ini terjadi dimana-mana. Namun seiring berjalannya waktu melalui usaha keperawatan komunitas dengan pendekatan promosi kesehatan yang massif, kita melihat hasilnya bahwa masyarakat menjadi lebih banyak paham tentang korona serta lebih bijak dalam menanggapinya.

Kedua: usaha promosi kesehatan yang massif serta didukung oleh upaya bersama lintas program dan sektor, keluarga menjadi lebih baik dalam hal mengambil keputusan jika terjadi masalah korona, baik yang dialami sendiri maupun tentangga sekitar. Keputusan untuk saling mengedukasi dan menguatkan, keputusan untuk mematuhi protocol kesehatan adalah salah satu contoh upaya komunitas yang luar biasa bermanfaat, sekalipun tidak bisa membuat virus korona lumpuh total.

Ketiga: di NTT diperkirakan penderita korona berjumlah ribuan, lebih dari yang bisa dihitung oleh statistic kesehatan. Spekulasi angka soal kematian masih simpang siur. Namun yang kita apresiasi adalah kemampuan untuk survive dan merawat diri sendiri sampai sembuh dari korona tersebut. Coba kita renung sejenak, berapa banyak ruang rawat, alat, tenaga perawat dan dokter jika masalah ini harus diselesaikan di rumah sakit. Tentu pada akhirnya semua system ini akan tumbang dengan sendirinya. Oleh karena itu keluarga perlu diedukasi secara massif tentang upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam mengatasi penyakitnya sendiri dengan pendekatan pada fase prepatogenesis (sebelum sakit) dan fase pathogenesis (setelah sakit) (Bandingkan Clark 1995).

Keempat: merebaknya korona membuat keluarga menjadi lebih aktif dalam memperhatikan lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Keluarga menjadi lebih aktif dalam memperhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal sebagai bentuk pencegahan, membentuk pos-pos jaga untuk mengawal protocol Covid-19, dan lain sebagainya. Modifikasi lingkungan yang dimaksud adalah yang memberikan dampak positif bagi keluarga.

Kelima: munculnya penyakit korona membuat masyarakat sadar akan pentingnya fasilitas kesehatan. Cerita pilu dan haru tentang perawat yang berjibaku merawat pasien korona mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat. Saat ini keluarga sudah  lebih paham bahwa bukan hanya karena sakit kita mencari pertolongan di fasilitas kesehatan, akan tetapi justru dengan mencari pertolongan sebelumnya kita justru terselematkan. Kesadaran masyarakat seperti ini merupakan tanda bahwa paradigma sakit sudah perlahan digeser dari mencari pengobatan ke mencari cara untuk mencegah terjadinya penyakit.

Pada dasarnya korona sudah dianggap seperti roh halus, tidak kelihatan dengan mata namun mematikan tergantung siapa yang terkena. Kita hanya bisa berdoa dan harus proaktif dalam mencegah dengan menerapkan protocol kesehatan serta mematuhi peraturan yang ada. Terbukti bahwa upaya promotif dan preventif (pencegahan) lebih efiktif dan efisien dalam menangani virus korona. Karena sifatnya yang unik, maka sudah hampir pasti korona menjadi sulit untuk dieliminasi total dari kehidupan manusia. Oleh karena itu kita harus melakukan revolusi total dengan tujuan menggerakan masyarakat agar terbentuk barrier system komunitas dengan melakukan upaya 4 pilar tugas utama masyarakat yaitu mentaati protocol kesehatan, melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mentaati aturan serta proaktif dalam edukasi komunitas (saling mengedukasi antara satu dengan yang lain untuk membentuk kesadaran bersama).

Pergeseran paradigma sakit membuka ruang yang luas bagi pengakuan upaya promotif dan preventif sebagai pilot project dalam mengatasi semua penyakit yang menyerang manusia. Dukungan kebijakan dan pendanaan sangatlah penting sekalipun memiliki segudang catatan soal penyelewengan. Kesuksesan strategi advokasi membuat Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. H. Joko Widodo menjadi sebuah idola baru dalam dunia pendidikan dan promosi kesehatan. Beliau adalah tokoh yang  mengajak masyarakat untuk mentaati protocol kesehatan dan mengajak masyarakat untuk ikut vaksin massal Covid-19 serta yang paling penting adalah komitmen kebijakan dan anggaran yang beliau ambil dalam menangani Covid-19. Pada titik ini, mari kita coba merenung sejenak dan mengakui bahwa ini adalah usaha luar biasa sekalipun ada beberapa kekurangannya, namun kita membutuhkan keberpihakan, kita membutuhkan seorang model, kita membutuhkan yang namanya optimisme.

Korona tidak menawarkan model baru dalam ilmu kesehatan. Semua yang diperankan sekarang adalah ilmu-ilmu yang dipelajari sejak lama, namun mulai membumi ketika korona merebak. Kedua; dengan peristiwa ini, system pelayanan kesehatan kita tidak lagi menjadikan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sebagai obyek dari pelayanan kesehatan; namun sebagai subyek sekaligus mitra menuju Indonesia sehat. Ini adalah kesempatan untuk kita berubah, masyarakat dan tenaga kesehatan berubah dan beradaptasi dengan model pelayanan yang baru karena sadar akan pentingnya mencegah daripada mengobati

(*)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top