Daerah

Marthen Dira Tome Berkunjung ke Pulau Flores Sambil Promosikan Potensi Sabu Raijua

TEROPONGNTT, RUTENG — Selama empat hari tiga malam, Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome berkunjung ke Pulau Flores. Banyak hal ia lakukan, banyak hal pula ia temui. Sambil presentasi dan promosikan potensi Kabupaten Sabu Raijua, Marthen Dira Tome pun mendapat banyak pelajaran berharga termasuk dukungan untuk memimpin Provinsi NTT sebagai gubernur.

Kunjungan Marthen Dira Tome di nusa bunga disambut hangat warga setempat. Diawali dari Kabupaten Manggarai Barat, lalu menyusuri Kabupaten Manggarai, Manggara Timur, Kabupaten Ngada, Nagekeo dan terus ke Kabupaten Ende. Di hari pertama, Marthen Dira Tome bermalam di Kota Ruteng, sementara malam kedua di Pota Manggarai Barat dan malam ketiga di Kota Ende.

Marthen Dira Tome juga berkesempatan menghadiri pertemuan dengan warga di kabupaten yang dikunjungi. Ada beberapa lokasi pertemuan yang dilakukan Marthen Dira Tome dengan masyarakat setempat seperti di aula Susteran Stela Maris Labuan Bajo, di Desa Lando Persawahan Lembor, Kecamatan Manggarai Barat, di aula Paroki Poka Wae Ri’I, Kabupaten Manggarai, di Kampung Randang, Desa Nanga Mbaur, Manggarai Timur dan di Kelurahan Nangamese Riung, Kabupaten Ngada.

Saat bertemu masyarakat di Pulau Flores, Marthen Dira Tome tak sungkan-sungkan untuk berpelukan dengan para orang tua yang sudah renta. Mereka seperti anak dan orang tua yang sudah lama berpisah dan diselimuti rasa rindu yang kental. Marthen Dira Tome juga tak risih ketika harus merangkul para orang mudah bahkan anak sekolah dasar. Ia menjadi bagian dari masyarakat yang hidup di Pulau Flores.

Dalam setiap pertemuan, Marthen Dira Tome menyampaikan apa yang dilakukannya di Sabu Raijua dalam bentuk presentasi, kemudian dilanjutkan dengan dialog. Ia juga mengungkapkan bagaimana perjuangannya menemukan potensi di Kabupaten Sabu Raijua hingga akhirnya mampu membuka lahan tambak garam yang hasilnya kini telah diantarpulaukan ke berbagai wilayah diluar NTT. Tidak hanya itu, ada tiga pabrik di Sabu Raijua yang telah berproduksi yakni pabrik garam, pakrik air mineral Oasa dan pabrik pengolahan rumput laut juga diperkenalkan Marthen Dira Tome kepada masyarakat di Pulau Flores.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa musuh terbesar kita di NTT adalah kemiskinan dan pengangguran. Untuk itu, kita harus mencari cara yang tepat untuk mengatasi persoalan tersebut. Tambak garam dan tiga pabrik yang ada, telah menyerap tenaga kerja yang cukup banyak di Sabu Raijua,” ungkap Marthen Dira Tome saat berdialog dengan masyarakat di aula Susteran Stela Maris Labuan Bajo.

Pada kesempatan tersebut, Marthen Dira Tome juga mengungkapkan kekagumannya terhadap potensi di Manggarai Barat. “Labuan Bajo adalah surga yang jatuh ke bumi. Tuhan telah mengaruniakan daerah ini dengan begitu banyak kekayaan, tinggal bagimana kita mengolahnya untuk kesejahteraan rakyat,” pungkas Dira Tome.

Salah satu peserta diskusi yang juga aktivis LSM Sunspirit For Justice and Peace di Manggarai Barat, Kris Somerpers menilai Marthen Dira Tome sebagai “Bupati bajingan” dari NTT yang layak menjadi Gubernur NTT. Menurut dia, keberhasilan bupati Sabu Raijua menjadi sebuah gambaran bahwa di NTT ada pemimpin yang memiliki prestasi seperti pemimpin di daerah lain.

“Kalau Ramses Lalongkoe dalam bukunya menyebut Ahok adalah “Pemimpin Bajingan”, di NTT kita juga punya bupati bajingan seperti Pak Bupati Sabu Raijua, kita patut memberi penghargaan terhadap perestasi yang Pak Bupati telah buat” ujar Kris.

Menanggapi pernyataan Kris, Dira Tome mengaku sangat berterima kasih karena mendapat dukungan yang begitu luar biasa dari warga Labuan Bajo. Dia berharap kedepannya bisa terus melakukan kerja-kerja nyata yang mampu memberi kesejahteraan bagi rakyat.

Dari Labuan Bajo, rombongan Marthen Dira Tome kemudian menuju Ruteng. Ditengah perjalanan, Marthen berkesempatan untuk bertemu dengan sejumlah masyarakat  di Desa Lando tepatnya di wilayah persawahan Lembor. Disitu Marthen disambut juga dengan Manuk Kapu dan Tuak Curu Jam sudah menunjukan pukul 20:30 namun diskusi berlangsung hangat. Rasa letih seperti lenyap dari wajah Dira Tome saat mendengar pengeluhan masyarakat terkait berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Dalam diskusi bersama para petani ditempat itu, Marthen Dira Tome menemukan sesuatu yang dinilainya ganjil dimana para petani dikompleks persawahan Lembor masih menerima beras miskin. Masyarakat setempat juga menitip harapan sekaligus memberi doa dan dukungan bagi Marthen Dira Tome untuk bertarung dalam Pemlihan Gubernur NTT pada 2018. Saat berpamitan para orang tua memberi ciuman dan pelukan untuk Marthen Dira Tome. Rombonganpun kemudian melanjutkan perjalanan menuju Ruteng dengan suasana hati yang gembira.

Keesokan harinya, tepat pada Selasa 6 September 2016, Marthen Dira Tome melakukan diskusi public di Aula Paroki Poka di Kecamatan Wae Ri’i. Sejumlah pemuda menjemput Marthen Dira Tome dari tempat penginapan yang terletak di Karot. Mereka kemudian melakukan konvoi menuju Poka. Di Pintu Aula Paroki Marthen Dira Tome kembali disambut dengan acara adat Manuk Kapu dan Tuak Curu. Dia diterima sebagai bagian dari masyarakat yang ada di Poka.

Seperti di Labuan Bajo, Marthen juga kemudian memaparkan apa yang telah da lakukan di Sabu Raijua. Di Poka, diskusi berlangsung hangat. Sejumlah pertanyaan dilontarkan para peserta kepada Marthen Dira Tome seandainya dia terpilih menjadi Gubernur NTT. Marthen pun meladeni setiap pertanyaan dengan jawaban-jawaban yang pada akhirnya memicu tepuk tangan hadirin.

“Manggarai itu adalah ciptaan Tuhan yang sempurna. Jika Tuhan berkenan dan rakyat memberi kepercayaan maka kita harus bersama-sama bekerja keras agar setiap potensi yang ada di Manggarai bisa dikelola untuk kesejahteraan bersama,” kata Marthen.

Dari Poka, rombongan kemudian menuju Manggarai Timur. Kali ini tempat yang dituju adalah Kampung Randang di Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas. Untuk menuju tempat itu menghabiskan waktu selama empat jam perjalanan. Tiba di randang sudah pukul 20:00 Wita. Ribuan masyarakat telah menunggu dalam tenda yang terlihat seperti tenda pernikahan. Disitu kembali lagi Marthen Dira Tome disambut secara adat yakni dengan Manuk Kapu dan Tuak curu.

Pertemuan di Randang cukup seru, hingga pukul 24:00 Wita. Itupun masyarakat merasa tidak puas karna begitu banyak yang antusias ingin bertanya maupun sekedar memberi saran serta menitip harapan secara langsung kepada Marthen Dira Tome. Beberapa tokoh masyarakat setempat bahkan menyempatkan diri untuk kembali bertemu Marthen di penginapan. Mereka datang dari subuh hanya ingin kembali menegaskan dukungan mereka kepada Marthen Dira Tome.

Dari Randang kami kemudian menuju Riung di Kabupaten Ngada. Jalanan yang rusak parah dan mengancam keselamatan dilalui dengan penuh hati-hati sambil sesekali berhenti menikmati keindahan pantai di jalur utara pulau Flores. Marthen tak henti-hentinya berdecak kagum dengan keindahan dan potensi yang ada di Pulau Flores. Dia seperti tak tahan lagi untuk berbuat sesuatu bagi daerah itu.

Kehadiran Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome untuk bertemu masyarakat Riung mendapat perhatian lebih dari Bupati Ngada, Marianus Sae. Marianus memberi perintah langsung kepada Camat Riung, Alfian, S.sos untuk mengawal Dira Tome selama berada di Riung.

“Saya ditelepon oleh Pak Bupati untuk mengawal bapak selama di Riung karna beliau ada sidang dengan DPRD,” kata Camat Riung saat menjabat tangan Dira Tome di Pantai Wisata Riung pada Rabu, 7 September 2016.

Alfian menjelaskan saat mendapat perintah dari Bupati Ngada, Marianus Sae, dia langsung melakukan koordinasi dengan panitia yang melakukan kegiatan diskusi publik dengan Dira Tome. Dia juga menjelaskan berbagai potensi maupun kendala di Kecamatan Riung.

“Waktu Pak Bupati Telpon saya terkejut karna saya belum tahu kalau bapak mau datang. Pak Bupati bilang tolong kawal Pak Dira Tome itu sahabat saya, kalau beliau ada waktu bawa dia bertemu saya di Bajawa, saya siap menunggu,” kata Alfian menirukan perintah Marianus.

Sementara Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome kepada Alfian mengatakan bahwa, sebelum memasuki wilayah Ngada, dirinya sudah meminta izin kepada Marianus Sae sebagai penguasa wilayah. Atas izin tersebut dia bisa bertemu dengan masyarakat yang ada di Riung.

“Tadi sebelum masuk keNgada saya sudah telpon pak Marianus. Beliau bilang dia ada sidang penting dengan DPRD sehingga tidak bisa bersama-sama. Saya berterimakasih pak Camat mau mendampingi saya,” Kata Marthen.

Kepada Camat, Dira Tome mengatakan bahwa Riuang adalah tempat yang memiliki begitu banyak potensi yang perlu dikelola secara maksimal untuk kesejahteraan masyarakat. Riung dan Flores pada umumnya adalah wilayah yang sempurna yang Tuhan ciptakan untuk masyarakat NTT. Semua ada di Flores tinggal dikelola secara maksimal,” kata Dira Tome.

Saat bertemu masyarakat di Riung, Marthen Dira Tome disambut dengan Tarian Tia Raga oleh masyarakat setempat. Ada sejumlah harapan dan dukungan kepada Marthen Dira Tome untuk maju menjadi Calon Gubernur NTT pada tahun 2018. (seputarntt.com/*)

 

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top