Daerah

Maritje Pattiwaellapia : Pertumbuhan Ekonomi NTT Sama Dengan Nasional

TEROPONGNTT, KUPANG –Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk triwulan II periode April, Mei dan Juni 2017 sebesar 5,01 persen year on year (y on y) terhadap triwulan II tahun 2016 lalu. Tingkat pertumbuhan ekonomi NTT tersebut sama dengan kondisi pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2017 secara nasional, yaitu 5,01 persen (y on y).

Demikian dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Maritje Pattiwaellapia dalam jumpa pers yang digelar di aula Kantor BPS NTT, Senin  (7/8/2017) sang. Maritje Pattiwaellapia, menjelaskan terdapat dua item yang akan diuraikan, yaitu soal angka pertumbukan ekonomi dan Indeks Tendensi Konsumsi (ITK).

Khusus terkait kondisi pertumbuhan ekonomi NTT, kata Maritje Pattiwaellapia, kondisi ekonomi NTT triwulan II (2017) tumbuh membaik dipicu adanya beberapa peristiwa di bulan April, Mei dan Juni dengan adanya perayaan Paskah (Samana Santha di Flotim), Idul Fitri dan masuk liburan sekolah.

Peristiwa-peristiwa ini kami catat sebagai fenomena yang memicu pertumbuhan ekonomi di NTT membaik, termasuk dengan dicairkannya gaji ke 13 dan 14 kepada para Aparatur Sipil Negara,” kata Maritje Pattiwaellapia.

Selanjutnya, ungkap Maritje Pattiwaellapia, ada dukungan dari realisasi belanja pegawai pada triwulan II, menunjukan perkembangan yang baik sebesar 67,68 persen dan realisasi belanja modal mencapai 31,39 persen. Namun secara umum, NTT juga mengalami deflasi sebesar 0,08 persen untuk triwulan II dibanding triwulan I (2017).

“Dengan demikian kita mencatat ekonomi NTT pada triwulan II (2017) tumbuh sebesar 5,01 persen, dibanding dengan triwulan yang sama pada tahun yang berbeda yaitu tahun 2016 ke 2017 (y on y),” jelas Maritje Pattiwaellapia.

Dikatakan Maritje Pattiwaellapia, kalau melihat secara kwartal (q to q) terhadap triwulan I ke triwulan II (2017) tumbuh 4,72 persen, artinya lebih rendah dari y on y 5,01 persen dengan atas dasar harga konstan Rp. 15,4 triliun dari produk domestik regional bruto (PDRB) ditambah atas dasar harga berlaku Rp. 22,2 triliun pada triwulan II (2017).

“Jadi ada tiga indikator utama untuk menetapkan kondisi pertumbuhan ekonomi triwulan II, yaitu dilihat dari perkembangan pertumbuhan q to q, c to c ( semester) dan tahun ke tahun (y on y) pada tahun yang berbeda,” tambah Maritje Pattiwaellapia.

Laju pertumbuhan PDRB triwulan II tahun 2016/2017 (y on y) mengalami fluktuasi, demikian juga terjadi secara q to q untuk triwulan I dan triwulan II (2017). Hal ini misalnya disebabkan rendahnya realisasi anggaran pemerintah pada triwulan I sehingga bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah.

Secara gamblang, Kepala BPS NTT, Maritje Pattiwaellapia menguraikan, pertumbuhan PDRB tertinggi dari 17 sektor atau lapangan usaha, yaitu pertumbuhan q to q triwulan II terhadap triwulan I, penyediaan akomodasi makan minum tumbuh 8, 49 persen dan diikuti sektor kontruksi 7,03 persen serta sektor administrasi pemerintahan tumbuh 8,65 persen. Jika dibandingkan untuk pertumbuhan year on year pada triwulan yang sama di tahun yang berbeda (2016/2017) ), jasa pendidikan mengalami pertumbuhan cukup tinggi 7,44 persen dan diikuti industri pengolahan 7,42 persen serta sektor informasi dan komunikasi melalui jasa internet sebesar 6,96 persen (y on y).

Demikian juga, kata Maritje Pattiwaellapia, sektor pertanian tumbuh sebesar 1,35 persen juga mempunyai andil dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi NTT menjadi 5,01 persen.

Sedangkan terkai Indeks Tendensi Konsumen (ITK) NTT, pada triwulan III (2017) nanti, tambah Maritje Pattiwaellapia, diperkirakan sebesar 107,74. Artinya, kondisi ekonomi konsumen diperkirakan membaik. Dengan tingkat optimisme konsumen lebih kurang sama dibandingkan triwulan II (2017).(*/Siaran Pers Biro Humas NTT)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top