Daerah

Lunasi Pinjaman Sebelum Jatuh Tempo, Nasabah Ini Dikenakan Pinalti Oleh Bank Bukopin

TEROPONGNTT, KUPANG – Pada Juli 2015, seorang pensiunan PNS bernama Filomena de Fatima Pinhxiro, meminjam uang sebesar Rp 130 juta dari Bank Bukopin Cabang Kupang. Dengan perjanjian, setiap bulan Filomena de Fatima Pinhxiro harus membayar angsuran sebesar Rp 2.028.463,- (Rp 2 juta lebih) yang dipotong langsung dari gaji pensiunnya.

Setelah dua tahun membayar angsuran, Filomena de Fatima Pinhxiro kemudian berniat melunasi pinjamannya di Bank Bukopin tersebut. Namun, yang dialami justru diluar dugaan Filomena de Fatima Pinhxiro.  Pasalnya, Filomena de Fatima Pinhxiro harus membayar lebih besar dari pinjamannya yakni Rp. 135.456.635,00 (Rp 135 juta lebih) kepada Bank Bukopin jika ingin melunasi dan menutup pinjamannya.

Filomena3Filomena de Fatima Pinhxiro, yang datang ke Kantor Cabang Bank Bukopin Kupang, Senin (4/9/2017) siang, terlihat resah, bingung dan kecewa. Bagaimana mungkin, pinjam Rp 130 juta, setor angsuran Rp 2.028.463,- perbulan selama 26 bulan, tapi harus membayar Rp. 135.456.635,00 (Rp 135 juta lebih) jika ingin melunasi?. Filomena de Fatima Pinhxiro yang datang ke kantor Bank Bukopin Cabang Kupang didampingi suaminya, Yohanes M A Ateng, jadi pening kepala.

“Kami tidak melakukan kesalahan, kami bayar angsuran tiap bulan sebesar Rp 2.028.463,- (Rp 2 juta lebih) yang dipotong langsung dari gaji pensiun.  Sekarang kami mau lunasi, jumlahnya sudah lebih besar dari pinjaman. Lalu, uang angsuran yang kami bayar selama 26 bulan kemana saja?,” kata Filomena de Fatima Pinhxiro, kepada wartawan di halaman Kantor Bank Bukopin Cabang Kupang, Senin (4/9/2017) siang.

Bahkan, menurut Filomena, saat pertama mengecek kantor Cabang Bank Bukopin Kupang tanggal 29 Agustus 2017, petugas Bank Bukopin mengatakan, besarnya uang yang harus dibayar ke Bank Bukopin bila ingin melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo (menutup pinjaman) adalah sebesar Rp  134.782.700,- (Rp 134 juta lebih). Tetapi saat datang untuk melunasi pada Senin (4/9/2017), jumlahnya naik menjadi Rp 135.456.635,00 (Rp 135 juta lebih).

“Tadi kami sudah lunasi, sudah tutup pinjamannya dengan membayar Rp. 135.456.635,00 (Rp 135 juta lebih). Biar sudah kami lunasi saja. Tapi kasus ini kami lanjut. Kami akan lapor ke OJK lagi, kami juga akan lapor ke Jakarta dan lapor ke polisi,” kata Filomena dibenarkan suaminya, Yohanes M A Ateng.

Dikatakan Filomena, setelah melunasi pembayaran, baru terlihat dalam rekapan yang diprint dari Bank Bukopin Cabang Kupang, setelah membayar angsuran selama 26 bulan, besar pinjaman mereka sudah turun menjadi Rp 122.868.769,- (Rp 122 juta lebih). Tetapi petugas Bank Bukopin mengatakan kalau mereka dikenakan pinalti, sehingga harus membayar Rp. 135.456.635,00 (Rp 135 juta lebih).

“Waktu pertama mau pinjam, orang Bank Bukopin omongnya manis semua. Sehingga istri saya mau pinjam uang di Bank Bukopin. Petugas Bank Bukopin juga tidak beri tahu kalau kami akan kena pinalti kalau melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo,” tambah Yohanes M A Ateng,  suami dari Filomena de Fatima Pinhxiro.

Menurut Ateng, peraturan Bank Bukopin ini juga menjadi pertanyaan bagi dirinya dan istri selaku nasabah. Bagaimana mungkin, pinalti diberikan pada nasabah yang tidak melakukan kesalahan dan melebihi besarnya pinjaman.

“Kalau dihitung-hitung, karena melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo ini, kami mengalami kerugian sekitar hampir Rp 50-an juta. Karena 26 bulan kali Rp 2.028.463,- sudah sekitar Rp 52 juta lebih, ditambah Rp 5 juta lebih dari pelunasan Rp. 135.456.635,-, karena kami pinjam Cuma Rp 130 juta,” kata Ateng.

Pimpianan Cabang Bank Bukopin Kupang yang hendak dikonfirmasi wartawan tidak berhasil ditemui karena masih sibuk. Sementara salah satu petugas Bank Bukopin, Allen Maryam Bara, mewakili  Pimpianan Cabang Bank Bukopin Kupang di kantor bank tersebut, Senin (4/9/2017) siang, menjelaskan, pihak Bank Bukopin tidak bisa memberi informasi langsung nama nasabah dan besarnya pinjaman yang diberikan Bank Bukopin. Hal itu merupakan kerahasiaan bank.

Namun demikian, kata Allen Maryam Bara, jika nasabah (kredit) meminjam uang di Bank Bukopin dan melunasi sebelum jatuh tempo, yakni sebelum masa angsuran  lebih dari lima tahun,  maka nasabah akan dikenakan pinalti 10 persen dari besarnya pinjaman.

Sebagai contoh, kata Allen Maryam Bara, jika nasabah meminjam uang Rp 130 juta, setelah dua tahun angsuran lalu melunasi pinjamannya, maka nasabah tersebut dikenakan pinalti sebesar 10 persen dari Rp 130 juta. Karena masa angsuran nasabah tersebut dibawah lima tahun, tapi sudah melunasinya.

“Ini hanya karena pemahaman saja.  Ada di klausal kita (Bank) dikenakan pinalti 10 persen kalau pelunasan kredit dibawah lima tahun. Sudah ada surat dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga, bahwa tidak ada kerugian di nasabah. Kami mengikuti aturan perbankkan dan kami diawasi oleh OJK,” kata Allen Maryam Bara.

Allen Maryam Bara menambahkan, kalau pembayaran angsuran selama lebih dari lima tahun, kemudian nasabah mau melakukan pelunasan, nasabah juga tetap dikenakan pinalti. Cuma besarnya pinalti sudah berkurang, bukan 10 persen lagi tetapi bisa 5 persen atau 2 persen.

“Jadi ini masalah pemahaman saja. Karena contohnya, kalau nasabah angsuran baru dua tahun, terus petugas bank mendatangi nasabah dan minta nasabah melunasi kreditnya, tentu nasabah juga akan mengatakan, jangka waktu angsuran saja 12 tahun atau 15 tahun.  Nasabah tentu akan merasa dirugikan. Begitu juga sebaliknya, kalau nasabah melunasi sebelum jatuh tempo kredit atau peminjaman. Jadi, ini sebenarnya dampak saja,” kata Allen Maryam Bara. (max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top