Daerah

KPU Provinsi Riau Ikut Bereaksi Terhadap Pemukulan Ketua KPU Kabupaten Lembata

TEROPONGNTT, PEKANBARU — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Riau ikut bereaksi terhadap kasus penganiayaan atau pemukulan yang dialami Ketua KPU Kabupaten Lembata, Petrus Payong Pati. Ketua KPU Provinsi Riau, Nurhamin menyesalkan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum pengacara, terhadap Ketua KPU Kabupaten Lembata, Petrus Layong Pati.

“Kita seluruh komisioner KPU Riau dan seluruh KPU kabupaten/kota di wilayah Provinsi Riau mengecam tindakan anarkis tersebut,” kata Nurhamin, Jumat (12/5/2017).

Petrus Layong Pati dipukul hingga berdarah oleh kuasa hukum salah satu pasangan calon yang kalah, usai mengikuti sidang pembacaan keputusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI di Jakarta. Akibat tindakan kekerasan, Petrus Layong Pati dilarikan ke rumah sakit.

Nurhamin juga menyampaikan beberapa tuntutan. Pertama, meminta pihak aparat kepolisian menangkap dan menahan pelaku penganiayaan tersebut. Kedua, memproses pelaku penganiayaan dengan ancaman hukuman yang seberat-beratnya.

Ketiga, kata Nurhamin, meminta semua pihak tetap menghormati proses hasil pilkada di Kabupaten Lembata tahun 2017. Keempat, mengimbau kepada seluruh penyelenggara pemilu di seluruh Indonesia untuk terus mendukung dan mengawal proses hukum yang sedang berjalan.

“Semoga kejadian ini merupakan yang terakhir kali dan tidak ada lagi kekerasan dalam bentuk apapun yang menimpa para penyelenggara pemilu,” kata Nurhamin.

Menurut salah satu komisioner KPU Lembata Barnabas, peristiwa pemukulan itu terjadi setelah sidang kode etik di DKPP di Jakarta, sekitar pukul 14.00 Wita.

Usai pembacaan putusan, kata dia, pengacara pengadu yang berinisial MK ke luar lebih dulu saat yang lain menyanyikan lagu Padamu Negeri.

Kemudian, ketua KPUD Lembata, Petrus Payong Pati juga turun setelah lagu selesai dinyanyikan. Sementara komisioner lain masih ada berada di ruangan sidang.

“Pak ketua (KPUD Lembata) Piter Payong Pati ini, dia turun lebih dulu ke lantai dasar. Mungkin dia telepon (atau) mau isap rokok di depan ruangan media centre di lantai satu,” ujar Barnabas.

Saat itulah, kata Barnabas, terjadi pemukulan oleh MK yang merupakan kuasa hukum pasangan Herman Yosef Loli Wutun-Yohanes Viany K.Burin.

Bernabas mengaku tidak melihat secara langsung bagaimana ketua KPUD Lembaga dipukul karena dirinya masih berada di ruangan sidang di lantai atas.

Menurutnya, berdasarkan cerita petugas keamanan (Satpam) yang melihat kejadian, MK memukul Petrus Payong di bagian mukanya.

“Mungkin satu dua kali (pukulnya), habis itu jatuh, dia masih tendang lagi,” ujarnya.( www.riau24.com/*)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top