Daerah

Putra Lamakera Solor ini Sukses Menjadi Nahkoda Kapal Perusahaan Mandiri Line Jakarta

Tekad yang kuat dan bekerja keras merupakan kunci kesuksesan, keiklasan adalah dasar dari semuanya. Itulah moto hidup yang menuntun Muhammad Masykur, pria asal Lamakera Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur. Sewaktu kecil tergolong anak yang kurang mampu, tapi kini ia telah menjadi nahkoda kapal perusahaan pelayaran PT.Mandiri Line Jakarta dan tergolong orang berhasil.

Bagi Masykur , merantau ke kota besar atau ke daerah lain bisa memberi manfaat yang besar pula. Merantau membuat seseorang menjadi mandiri dan belajar memahami diri sendiri. Asalkan terus berusaha menggali dan menggali potensi yang ada dalam diri. Dengan begitu, dapat diukur seberapa besar potensi diri dan bagaimana mengelola potensi yang ada menjadi sesuatu yang membawa kepada keberuntungan.

Lewat handphone kepada wartawan di Kupang, Minggu (26/2/2017) siang, Masykur menceritakan perjalanan hidunya hingga mencapai seperti sekarang ini. Mulai dari kehidupannya di waktu kecil, sejarah pendidikannya serta perjuangannya ketika merantau ke ibu kota Jakarta. Semua diingatnya dengan baik.

Muhammad Masykur lahir di Lamakera Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur tanggal 17 Juli 1977. Ayahnya bernama H. Masykur. G. Songge dan ibunya bernama Siti Saleha. Ia mengawali pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Inpres Lamakera Solor. Semasa SD, Masykur boleh dibilang sebagai anak yang kurang mampu dalam proses belajar. Prestasinya di kelas pun masih pas-pasan dan tidak memiliki cita-cita seperti anak-anak lainnya.

Tamat dari pendidikan SD Inpres Lamakera Solor, Masykur pindah ke Kupang bersama orangtuanya dan melanjutkan sekolah ke MTs Negeri  Kupang. Bukannya punya cita-cita yang tinggi, Masykur malah selalu bolos sekolah sehingga membuat ibunda tercinta harus rela berurusan dengan sekolah.

Ibunda tercinta, Siti Saleha, tiada duanya bagi hidup Masykur . Selalu menasehati dan memberi  motivasi untuk bangkit dan memperbaiki hidup. Rajin belajar dan menjadi lebih baik dari kehidupan sebelumnya, supaya nantinya boleh membantu dan mengurus orangtua ketika usia senja.

“Walaupun saya sering bolos sekolah, namun saya juga berjuang untuk belajar bagaimana hidup mandiri.  Saya berjualan jajanann gula lempeng milik paman saya di pasar Kampong Solor, Kota Kupang,” cerita Masykur.

Tahun 1993, Masykur mengikuti tes masuk STM Negeri Kupang setelah tamat dari MTs Negeri Kupang, namun gagal. Merasa putus asa, ia memutuskan berhenti sekolah dan membantu pamannya berjualan di Pasar Kampung Solor. Tetapi ibunda tercinta terus membujuk dan menasehati. Ibunda mengatakan kalau pendidikan merupakan sesuatu yang penting.

Nasihat ibunda ternyata tak sia-sia. Tahun ajaran berikutnya, Masykur pun luluh dan memutuskan kembali mengikuti tes masuk STM Negeri Kupang. Kali ini anak nakal yang suka bolos sekolah tersebut diterima di Jurusan Teknik Pengerjaan Logam (TPL).

Doa ibu memang luar biasa dasyatnya. Tamat dari pendidikan STM Negeri Kupang tahun 1997, Masykur justru mendapat rekomondasi khusus dari sekolah untuk melanjutkan kuliah di UGM Yogyakarta. Hanya saja, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, apalagi sang ayah cuma berprofesi sebagai guru agama, membuat peluang kuliah tersebut sirna.

Mengandalkan ijasah STM, Masykur memilih merantau ke ibu kota Jakarta. Meski kehidupan ibu kota sangat keras dan susah mendapatkan pekerjaan, tapi tidak menyurutkan tekad putra Lamakera itu. Jika kita iklas dan bersungguh-sungguh pasti ada jalan, begitulah prinsipnya.

“Saya kemudian bertemu dengan Mohammad Jafar  Kansong  Songge, seorang kapten kapal. Beliau menyarankan saya untuk bekerja di kapal. Saya disuruh mengurus buku pelaut dan surat keterangan pelaut (SKP) serta paspor. Awanya saya bekerja di kapal asistug atau kapal tunda bernama TB. Perkasa07 milik PT. Titian Samudera Shipping dengan jabatan juru mudi,” kata Masykur.

Dalam  bekerja, Masykur  selalu mendengar nasihat perwira kapal sebagai atasnnya, baik dari nahkoda, mualim 1, maupun KKM. Gajinya pun ia sisihkan sebagai tabungan dan setelah memiliki cukup uang, ia kemudian mengikuti pendidikan pelayaran dan diklat perwira pada tahun 2002. Selesai pendidikan, Masykur mendapat tawaran menjadi  mualim 1 di kapal  KM. Kurnia Jaya Abadi ll milik sebuah perusahaan  pelayaran di Pontianak, Kalimantan Barat.

Setelah satu tahun bekerja di KM. Kurnia Jaya Abadi ll, Masykur memutuskan kembali ke kampung halaman di NTT untuk mengunjungi orang tuanya. Selama berada di NTT, ia diminta menjadi polontir oleh Kapten  kapal fery KMP. Balibo. Masykur pun menikmati pekerjaan tersebut.

Seiring berjalannya  waktu, Masykur  memutuskan  kembali ke Jakarta memenuhi panggilan perusahaan Pelayaran PT. Victoria  Internusa Perkasa  (VIP) untuk  menjadi  mualim 1 kapal TB. Fajar Jaya dengan rute Jakarta – Irian. Kapal tongkang itu  membawa  material  untuk  pembangunan gas terbesar di asia (LNG Tangguh). Beberapa bulan kemudian, Owner perusahaan pelayaran PT. VIP mutasikan dirinya ke kapal  LCT. Maju   Jaya  menjadi  Mualim 1.

Selama  hampir dua tahun belajar   manajemen  hingga  olah gerak  sandarkan  kapal, Masykur  kemudian memutuskan  berhenti  bekerja  karena  ingin  melanjutkan lagi sekolahnya. Tujuannya memenuhi  persyaratan  menjadi  seorang captain/nakhoda kapal.

“Agustus  2009 saya  melanjutkan  sekolah hingga mendapatkan  ijazah ANT.IV di  BP3IP (Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan ILmu Pelayaran) di Jakarta. Dalam waktu 1 tahun saya mendapatkan ijasah sebagai nahkoda kapal. Saat ini saya bekerja sebagai nahkoda kapal pada perusahaan pelayaran PT. Mandiri Line Jakarta. Kapal kami melayani proyek pembangunan gas LNG Tangguh  terbesar di Asia yang terletak di Teluk Bintuni Papua dan pembangunan  proyek  jalan tol di Jakarta.

Dengan prestasi dan keberhasilan yang diraih, Masykur berharap, anak-anak NTT juga tidak ragu  jika harus merantau ke tanah orang. Dimana pun seseorang berada dan berkarya, jika dilaksanakan dengan tekad yang kuat dan mengelola potensi diri dengan baik, serta dilakukan dengan iklas, di rantauan pun pasti menuai kesuksesan. Tunjukan kalau anak NTT bisa. (Ambu)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top