Daerah

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya : Pendidikan Karakter Sangat Diperlukan

TEROPONGNTT, KUPANG — Penguatan pendidikan karakter bagi anak didik sangat diperlukan saat ini. Jangan terjebak pada pengetahuan yang sifatnya hafalan semata. Para pendidik dituntut untuk membentuk karakter anak bangsa.

Demikian Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs Frans Lebu Raya, pada pembukaan seminar sehari bertajuk ‘Kebijakan Lima Hari Sekolah, Masalah atau Solusi’ di aula Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTT, Selasa (8/8/2017) pagi.

“Kita jangan terjebak pada pengetahuan hafalan, lalu kita lupa membentuk karakter anak didik kita,” kata Lebu Raya.

Bagaimana pentingnya membentuk orang atau anak menjadi warga negara yang baik dan berkarakter Pancasila, kata Lebu Raya, harus menjadi perhatian serius, tidak boleh lengah. Perkembangan situasi kehidupan berbangsa akhir-akhir ini menunjukkan, kalau bangsa kita dihadapkan dengan adanya tantangan yang luar biasa. Ternyata, ada sekelompok orang yang berjuang untuk mengganti ideologi Negara yakni Pancasila.

“Sebagai Gubernur NTT,  saya selalu menegaskan, NTT, Pancasila, harga mati. NTT menolak yang namanya radikalisme, menolak seluruh Organisasi Massa (Ormas) yang anti Pancasila. Menolak Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan sudah saya katakan kemana-mana, kita tegas nengatakan ini,” kata Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

Dunia pendidikan, kata Lebu Raya, harus mengambil peran, bagaimana anak-anak mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai tamat perguruan tinggi, diajarkan atau dikuatkan karakternya. Yakni, sebagai warga bangsa Indonesia yang berideologi Pancasila dan berbudaya Indonesia, baik yang beragama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha tetap berbakti kepada budaya bangsa Indonesia.

“Saya minta penguatan pendidikan karakter mesti dilaksanakan. Bagaimana kita berkonsenterasi bagi peningkatan mutu pendidikan dan penguatan pendidikan karakter bagi anak didik,” tambahnya.

Kemajuan teknologi informsi harus juga menjadi perhatian, agar generasi muda tidak melupakan hal prinsip terkait dengan kehidupan kenegaraan. “Anak-anak kita harus jauh lebih pintar, lebih cerdas dan berkarakter,” pinta Lebu Raya.

Sementara Ketua Dewan Pendidikan NTT, Simon Riwu Kaho mengatakan, seminar terkait kebijakan lima hari sekolah, masalah atau solusi, dimaksudkan untuk membahas apakah dalam rangka mewujudkan pendidikan yang bermutu, ataukah menimbulkan masalah baru.

Dikatakan Riwu Kaho, pada dasarnya setiap anak bangsa berhak memperoleh akses dan kesempatan pendidikan yang merata, bermutu, relevan dan berdayasaing sesuai bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

Para peserta seminar sehari tersebut, berasal dari unsur DPRD Provinsi, anggota dewan pendidikan dan pengawas pendidikan se-Provinsi NTT.(*/Siaran Pers Biro Humas NTT)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top