Daerah

Duo “Djoka” di Kedokteran Widya Mandala Yang Sempat Bekin Profesor Maramis Bingung

TEROPONGNTT, KUPANG — “Mereka kuliah sungguh-sungguh dan aktif di kampus”, ungkap Profesor Maramis, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Katolik Widya Mandala (WM) Surabaya tentang para mahasiswa Kedokteran WM asal Nusa Tenggara Timur. Ahli Kesehatan Jiwa berusia 84 tahun ini menambahkan, “Kami merekomendasikan Merlyn untuk menerima beasiswa Yayasan. Dia berprestasi, aktif di organisasi kampus dan sangat membutuhkan dukungan.”

Merlyn yang dimaksud Prof. Maramis adalah Maria Magdalena Ano Djoka, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Semester 5. Di Fakultas ini ada dua Djoka. Prof Maramis pun sempat dibuat bingung. “Dua duanya ‘Djoka’ dan dua-duannya bernama ‘Maria’. Yang kakak ‘Maria Djoka’, yang adik juga ‘Maria Djoka’, sama-sama anak Piter Djoka (Bapak Drs. Paul Piter Djoka dan mama Elizabeth Djoka-Sa Sedo, S.Ag) di Kupang. Belakangan baru saya tahu, yang kakak panggilannya ‘Vernik Djoka’ sekarang semester 7 sedangkan adiknya ‘Merlyn Djoka’ semester 5,” cerita Profesor Maramis sambil tertawa.

Profesor Maramis sangat familiar dengan nama Piter Djoka. “Kami sering berkomunikasi, melalui telepon atau sms”, cerita Profesor Maramis. “Profesor Maramis sudah banyak membantu kami”, ungkap Piter Djoka kepada WF pada kesempatan berbeda.

Maria Veronika Ano Djoka dan Maria Magdalena Ano Djoka adalah puteri ke-3 dan ke-4 dari pasangan Drs. Paulus Piter Djoka, MT dan Elisabeth Sa Sedo, S.Ag. Pieter adalah Magister Teknik Tata Kota lulusan UGM yang kini menjadi widyaswara di Badan Diklat Provinsi NTT di Kupang dan Elisabeth adalah PNS yang menjadi guru di SDK St. Familia, Sikumana, Kupang. Selain membiayai dua anak di Fakultas Kedokteran WM, pasutri asal Ende ini masih membiayai pula putera sulung mereka di Fakultas Ekonomi Manajemen Unwira Kupang, dan puteri nomor dua yang telah menjadi sarjana hukum dari Unika Atmajaya Yogyakarta. Kini sang putri sedang mempersiapkan diri melanjutkan ke Magister Kenotariatan, juga di Yogyakarta.

Hidup dari gaji sebagai PNS dan harus membiayai 4 anak, apalagi dua sekaligus di Fakultas Kedokteran (FK) tentu bukan perkara mudah. Tetapi komitmen mereka sebagai orangtua memantapkan langkah Piter dan Elisabeth. Ketika Vernik diterima di FK, mereka nekat mengajukan pinjaman Rp 150 juta ke Kopdit Solidaritas Paroki Asumpta Kupang. Bahkan ketika  si bungsu Merlyn diterima di FK, Piter dan Elisabeth pun menjual Toyota Grand Extra, satu-satunya mobil yang mereka miliki. Sepeda motor Honda yang sedianya digunakan Piter pun dikirim untuk Vernik dan Merlyn. “Tidak perlu gengsi, tidak perlu malu. Pakai motor dinas pun tak apalah, yang penting anak saya bisa sekolah tinggi.” Pieter mengungkapkan bahwa walaupun berat, dia dan Elisabeth, sang isteri kompak untuk tidak pernah menunjukkan keadaan itu, apalagi mengeluh kepada putera-puterinya.

“Bapa dan Mama tidak pernah tunjukkan sikap bahwa kuliah kami ini mahal dan berat. Bahkan mereka selalu mendukung kami, tidak pernah berhenti memotivasi kami,” cerita Vernik. “Kami bangga, orangtua punya usaha luar biasa untuk membiayai kami, mereka berdoa sungguh-sungguh dan memberikan dukungan penuh buat kami. Hal itulah yang membuat saya selalu semangat”, imbuh si bungsu Merlyn. “Bapa Mama tidak pernah mengeluh. Mereka selalu mengingatkan kami untuk fokus kuliah, soal biaya adalah tanggung jawab penuh Bapa Mama,” lanjut Merlyn.

Secara akademik pencapaian Vernik dan Merlyn tidaklah mengecewakan. Hingga semester ke-tujuh Index Prestasi Kumulatif (IPK) yang dicapai Vernik 3,2 dan pada November 2015 ini ia akan di-yudisium menjadi sarjana kedokteran dan pada bulan Februari 2016 akan mulai ko-as (pendidikan profesi yang berlangsung selama 4 semester, red). Sedangkan sang adik, Merlyn hingga semester ke-4  mencapai IPK 3,5 dan bertekad menuntaskan studinya dengan predikat “Cum Laude”.

Biaya kuliah di fakultas kedokteran umumnya di atas rata-rata dibandingkan dengan biaya kuliah pada fakultas lain. Ini didukung oleh kualitas dan fasilitas yang memadai, serta sumber daya dosen yang berkualitas. Akreditasi “B” pun sudah diperoleh FK WM pada tahun 2013, ketika FK baru berusia 3 tahun. Setiap bulan biaya kuliah dan biaya hidup Vernik dan Merlyn masing-masing sebesar Rp 6 juta rupiah belum terhitung biaya awal yang jumlahnya hampir dua ratus juta rupiah. Itu berarti setiap bulan Pieter dan Elisabeth harus mengalokasikan Rp 12 juta untuk kedua putri mereka. Dan jumlah itu akan semakin besar karena ketika ko-as nanti biayanya lebih besar.

Beban biaya yang ditanggung Pieter dan Elisabeth memang sangat berat. Walaupun demikian mereka tetap optimis. Ketika Merlyn memasuki semester 4, atas dukungan dari Uskup Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, rekomendasi Profesor Maramis dan Rektor WM, Dr. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc.,Ph.D, Yayasan Widya Mandala Surabaya memberikan beasiswa penuh kepada Merlyn sejak semester 4 hingga ko-as nanti. Dengan beasiswa tersebut yayasan akan menanggung biaya kuliah sejak semester 4-7 (4 semester) sebesar Rp 17,5 juta per semester dan 4 semester selama ko-as sebesar sekitar Rp 30 juta per semester. Jumlahnya hampir Rp 200 juta rupiah.

Bukan hanya Merlyn, sang kakak, Vernik juga mendapat bantuan dari Depkes RI sesuai program Pendidikan Spesialis Berbasis Kompetensi (PPDS-BK) yang disalurkan lewat Pemerintah Provinsi NTT. Walaupun jumlahnya jauh lebih kecil dari yang diperoleh sang adik tetapi Vernik tetap bersyukur.

“Saya semakin semangat belajar karena saya tidak mau kecewakan Yayasan. Saya ingin buktikan bahwa Yayasan Widya Mandala tidak salah memberi beasiswa kepada saya, anak NTT ini”, ungkap Merlyn begitu percaya diri. “Saya sudah dapat perhatian, dukungan, beasiswa dari Pemprov NTT. Setelah selesai ko-as saya akan kembali bekerja di NTT”, tekad Vernik.

Menurut dua bersaudara ini, totalitas mereka dalam studi dan pencapaian terbaik yang bisa mereka raih tak lepas dari peran kampus. “Memang, awal kuliah kami tertinggal. Tetapi karena ada tekad yang kuat dan situasi kampus pun kondusif sehingga kami dapat mengejar ketertinggalan kami”, cerita Vernik. Pengalaman Merlyn juga tak jauh berbeda. “Para dosen sangat respek dan peduli pada kami sehingga penyesuaian diri dan pembauran dapat berlangsung cepat”.

Cerita Vernik dan Merlyn tak berlebihan. Ketika bertemu di ruang Dekan awal Oktober, Prof. Maramis dengan bangga mengajak WF langsung mendatangi ruang kuliah mahasiswa semester 3, 5 dan 7. Di ruang semester 3 WF bertemu antara lain dengan puteri Marianus Sae, Bupati Ngada. Para mahasiswa semester 5 yang sedang praktikum pun kami temui, termasuk Merlyn. Sedang Vernik dan kawan-kawan yang sedang melakukan diskusi Dilema Moral juga kami datangi.

Vernik dan Merlyn merasa sangat beruntung dan bangga menjadi mahasiswa Kedokteran WM. Mereka beruntung karena dipersiapkan secara khusus dalam kedokteran geriatrik dan kedokteran keluarga. Kedokteran geriatrik mempersiapkan mereka pada pelayanan orang lanjut usia. Sedangkan kedokteran keluarga mempersiapkan para calon dokter menjadi orang pertama yang akan menangani pasien, sebagaimana struktur berjenjang pelayanan dokter dalam sistem yang diterapkan BPJS.

Dua kekhususan tersebut didudukung pula oleh keunggulan dengan bekal moral memadai membuat para alumunus Kedokteran WM punya ciri sendiri. Kesadaran etis dalam menjalankan profesi dibangun melalui mata kuliah Dilema Moral. Melalui mata kuliah ini para calon dokter diajar dan dilatih mengambil keputusan bertindak dalam profesinya atas dasar pertimbangan etis.

“Fakultas Kedokteran WM-lah yang pertama punya mata kuliah ‘Dilema Moral’. Materi kuliah disampaikan langsung oleh Profesor Maramis, sedangkan diskusi terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang tiap kelompok ada dosen pembimbingnya”, cerita Vernik.

Vernik dan Merlyn pun beruntung berada di satu kampus yang sama, bahkan fakultas yang sama pula. “Saya menjadi semacam mentor bagi adik,” cerita Vernik. “Saya tidak perlu beli buku-buku lagi karena sudah ada dari kakak”, ungkap Merlyn. “Kadang-kadang adik juga bisa membantu saya mengingatkan materi-materi terdahulu,” imbuh Vernik lagi. Vernik dan Merlyn memang beruntung. Punya orangtua yang hebat dan mendapatkan kampus dengan segala keunggulannya.

(*/Leo Larantukan)

Sumber : Paul Piter Djoka

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top