Daerah

Dunia Pendidikan NTT Bakal Tersinggung Bila Baca Buku ‘Garis Merah Pendidikan’

TEROPONGNTT, KUPANG  – Sebuah buku berjudul “Garis Merah Pendidikan” siap dirilis mantan guru sekolah dasar (SD), Linus Lusi. Dilihat dari judulnya yang menggelitik, kehadiran buku ini diprediksi bakal membuat dunia pendidikan di NTT tersinggung.

Kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (1/10/2016) siang, Linus Lusi mengungkapkan, dirnya tidak kuatir apalagi takut jika buku Garis Merah Pendidikan yang ditulisnya bakal membuat dunia pendidikan di NTT menjadi tersinggung. Apalagi materi tulisan bukunya menyandingkan fakta dengan referensi sehingga memunculkan ide bernas sebagai jalan keluar yang ditawarkan.

“Apa yang salah dari pendidikan di NTT.? Kurikulum boleh bagus, kesejahteraan guru boleh baik, sarana prasarana boleh bagus, program boleh mentereng tapi kalau miskin komitmen, pendidikan di NTT akan tetap berada di garis merah,” kata Linus Lusi.

Menurut Linus Lusi, buku Garis Merah Pendidikan akan diluncurkan pertengahan Oktober 2016. Buku tersebut sebagai autokiritik dirinya sebagai seorang guru sekolah dasar (SD) yang tidak puas mendengar pernyataan bahwa orang NTT itu bodoh.

Diceritakan Linus Lusi, seri  pertama buku Garis Merah Pendidikan menyodorkan pertanyaan, Benarkah Orang NTT itu Bodoh..? Kalimat pertanyaan itu justru dikutip dari pernyataan yang dilontarkan Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho di tahun 2009 silam.

Niatnya merilis buku Garis Merah Pendidikan justru karena merasa terusik dengan pertanyaan yang dilontarkan Damyan Godho tersebut. Sekitat 200 judul opininya yang pernah dimuat di berbagai media massa pun dirampungkan kembali menjadi sebuah buku yang menarik.

Disunting Pemred weeklyline.net, Sandro Balawangak, pemimpin redaksi sebuah media online yang mengantongi ISSN di Bali Nusra, buku Garis Merah Pendidikan diyakini bakal dicari pembacanya. Apalagi dikomentari beberapa tokoh media senior seperti Damyan Godho, Dion DB Putra, Toni Kleden, Sandro Balawangak, Danel Hurek sebagai akademisi politisi pendidikan, juga Maksimus Masan Kian dan Alfred Ezra Tnuname, selaku penulis muda potensial. (nia)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top