Daerah

Dulu Karang Tajam, Kini Menghijau dengan Kebun Tebu

FOTO : Lahan karang ini kini telah berubah menjadi perkebunan tebu milik PT MSM.

TEROPONGNTT, WAINGAPU — Padang sabana yang berada di ruas jalan utama Waingapu-Umalulu, tepatnya di wilayah Kelurahan Wanga, Kecamatan Umalulu, yang sebelumnya hanyalah padang karang tajam, dan hanya ditumbuhi rerumputan kecil, kini berubah menjadi daerah perkebunan tebu. Proses mengubah padang karang tajam ini menjadi kebun yang layak tanam sendiri membutuhkan lima tahapan dengan energi, waktu, dan biaya yang mahal.

Manager Kebun PT Muria Sumba Manis (MSM), Wilson Lontorin menyampaikan hal ini dalam rilisnya yang diterima TeropongNTT.Com, Rabu (4/9/2019).

Menurutnya, proses mengubah padang seluas kurang lebih 500 hekta are (Ha) yang dibebaskan perusahaan tempatnya bekerja menjadi lahan pertanian sungguh tidak mudah, karena membutuhkan tekad yang besar dengan keyakinan yang sungguh.

“Untuk tahap pertama kita gunakan buldoser untuk scrub dulu, karena areal di Wanga ini data-data areal berbatu dan bagian atasnya itu batu-batu tajam. Jadi tidak bisa langsung digaruk, melainkan diratakan terlebih dahulu batu yang tajam diatas untuk dibuang. Setelah itu baru kita pakai buldoser D8 (buldoser paling besar, Red) untuk bongkar batunya dan keluarkan,” jelasnya.

FOTO : Lokasi lahan milik PT MSM ini dibongkar dengan alat berat (exavator) lalu dijadikan lahan perkebunan tebu.

Hasilnya batu-batu besar yang dikeluarkan tersebut digunakan untuk membangun jalan di areal perkebunan tersebut, dan lebihnya ditumpuk diluar areal yang tidak bisa ditanami tebu, karena berada pada tingkat kemiringan tertentu. Selanjutnya harus dilakukan lagi pengayaan batu-batu halus yang tidak terangkat dengan batu-batu besar tersebut untuk dipisahkan dengan material tanah yang ada.

“Sampai di tahap itu, awalnya kita kita sudah selesai untuk bisa ditanami. Tetapi ternyata belum, dan kita harus menggunakan lagi eksavator dengan kuku tiga yang tebal, untuk membongkar lagi batu-batuan yang ada, dan terakhir kita ayak lagi hasil bongkaran eksavator ini, agar membuang batu-batunya baru tanahnya bisa kita tanam dengan anakan tebu,” jelasnya.

Mengenai luas kebun yang sudah ditanami tebu di kawasan tersebut menurutnya sampai dengan saat ini kurang-lebih sudah mencapai 900 Ha dengan potensi sekitar 2000 Ha, dari total luas lahan yang dibebaskan perusahaan seluas kurang-lebih 5000 Ha. “Saat ini yang sudah kita tanam sekitar 900 hektar, dan paling banyak bisa 2000 hektar. Karena lahan yang kita bebaskan sekitar 5000 hektar, tapi tidak semua bisa ditanami tebu, karena ada areal pabrik, lereng, perumahan karyawan, embung, dan lainnya,” jelasnya.

Pria berdarah Alor ini menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan air pada perkebunan tebu yang ada di kebun Wanga, pihaknya mengambil air dari hilir sungai-sungai yang ada di sekitar kawasan kebun tebu tersebut, dengan membuat jebakan kecil untuk menyedot air naik ke embung-embung kecil yang dibangun dekat daerah aliran sungai. Selanjutnya baru dinaikkan lagi ke reservoar guna dialirkan lagi ke embung-embung lain yang jauh dari daerah aliran sungai.

“Prinsipnya kita selalu memaksimalkan pengambilan air ke embung-embung kita pada musim penghujan. Jadi kita tidak pernah mengganggu kebutuhan air masyarakat. Karena pada saat hujan dan terjadi banjir, masyarakat tidak membutuhkan banjirnya. Sedangkan pada musim kemarau, kita mengambilnya dari hilir sungai, sehingga juga tidak mengganggu kebutuhan masyarakat akan air. Kita juga menggunakan irigasi tetes pada perkebunan kita ini, sehingga kita manfaatkan air sesuai kebutuhan tebu saja,” jelasnya.

Engineering Manager PT MSM, Natalino Paul menambahkan, pabrik gula milik PT MSM yang sedang dibangun saat ini diproyeksikan akan mulai beroperasi pada Juni 2020 mendatang, dengan kebutuhan tebu per harinya sebesar 6000 ton. Karena itu, kerja sama dengan tim kebun terus disinergikan, agar pada saat pabriknya mulai beroperasi, ketersediaan tebu di kebun milik perusahaan maupun kebun-kebun masyarakat yang menjadi lembaga mitra sudah siap untuk memenuhi kebutuhan pabrik setiap harinya.

“Kita akan mulai produksi dari tingkatan paling kecil, sambil terus naik secara bertahan, dan kita harapkan pada Agustus 2020 sudah mencapai titik maksimum kebutuhan pabrik. Karena pabrik tidak boleh beroperasi terlalu lama dalam komisioning yang rendah. Termasuk kita akan melakukan perhitungan dari proses potong tebu di kebun, pengangkutan hingga masuk ke tahap produksi sehingga tidak terganggu,” urainya.

Mengenai kebutuhan tenaga kerja di pabrik gula yang akan mulai beroperasi tahun 2020 mendatang, Natalino menguraikan kurang-lebih akan dibutuhkan 450-an orang untuk bekerja di pabrik, dengan berbagai tingkatan pekerjaan yakni dari level non staf, staf, supervisor, hingga manager. “Kita harapkan nantinya untuk level non staf bisa 100 persen dari anak-anak Sumba sendiri. Kalau stafnya minimal 50-50, sebagai proses transfer pengetahuan dan teknologi. Sedangkan untuk supervisor dan manager pasti masih akan didatangkan tenaga dari Jawa untuk menularkan teknologi dan keahlian kepada para tenaga kerja di Sumba,” tandasnya.

(max).

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top