Opini

Donor Darah; Reduce Anemia di NTT (Sebuah Pendekatan Model Sederhana)

Oleh : Dr. Jeffrey Jap drg., M.Kes (Rektor Universitas Citra Bangsa)

TEROPONGNTT, KUPANG — Banyak orang pasti bertanya, apakah donor darah dapat mereduce/menurunkan anemia?. Tentu secara umum jawabannya tidak mungkin. Lantas bagaimana kaitan antara donor darah dan upaya menurunkan anemia?.

Sudah kita ketahui bahwa Kurang Darah atau Anemia adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau ketika sel darah merah tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, organ tubuh tidak mendapat cukup oksigen, sehingga membuat penderita anemia pucat dan mudah lelah.

Anemia dapat terjadi sementara atau dalam jangka panjang, dengan tingkat keparahan yang bisa ringan sampai berat. Anemia terjadi ketika kadar hemoglobin (bagian utama dari sel darah merah yang mengikat oksigen) berada di bawah normal. Orang dewasa dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya di bawah 14 gram per desiliter untuk laki-laki, dan di bawah 12 gram per desiliter untuk wanita.

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin. Akibatnya, sel-sel dalam tubuh tidak mendapat cukup oksigen dan tidak berfungsi secara normal (hipoksemia). Secara garis besar, anemia terjadi akibat tiga kondisi berikut ini: Produksi sel darah merah yang kurang, Kehilangan darah secara berlebihan dan hancurnya sel darah merah yang terlalu cepat.

Saat ini kasus yang sangat mengkhawatirkan adalah banyaknya remaja putri yang mengalami anemia. Data yang diperoleh dari unit donor darah selama ini sangat miris, dimana setiap kali dilakukan donor darah masal di setiap sekolah dan perguruan tinggi, terdapat lebih dari 70% yang tidak layak donor darah dengan alasan terbanyak pada anemia. Ini merupakan masalah utama yang akan melahirkan masalah-masalah besar lainnya seperti Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), Ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronik (KEK), hingga pada anak dengan Stunting. Pada sisi lain PMI selalu kekurangan stok darah untuk membantu para pasien yang membutuhkan.

Untuk mengatasi persoalan ini maka semua pihak harus saling support. Sebuah model sederhana kami tawarkan untuk mewujudkan ketersediaan stok darah yang aman serta mencapai zero anemi di kalangan remaja lebih khusus lagi remaja putri. Dua institusi pemeran utama disini adalah dinas kesehatan dan PMI dalam hal ini Unit Transfusi Darah (UTD). Dinas Kesehatan wajib mendistribusikan tablet Fe atau tablet multi mikronutrien kepada UTD. UTD wajib memberi data  screnningnya kepada Dinas Kesehatan. Baik dinas maupun UTD wajib menjalin kerja sama dengan setiap instansi pendidikan SMA dan Perguruan tinggi untuk melakukan donor darah secara rutin.

Rekapan data yang mengalami anemia dilakukan intervensi berupa pemberian makanan tambahan, tablet Fe, konseling gizi dan berbagai intervensi lainnya. Tugas ini diserahkan kepada tim dari institusi masing-masing. Misalnya di sekolah kepada guru BP dan di Perguruan tinggi kepada pihak BEM dan kemahasiswaan. Tiga bulan berikut atau jadwal Donor masal berikut akan di cek lagi apakah sudah ada perubahan atau belum. Jika telah ada perubahan maka intervensi ini bisa terus dilanjutkan dan sebaliknya jika masih tetap atau malah semakin buruk maka perlu evaluasi dan perbaikan lagi.

Kerja sama seperti ini memberikan keuntungan ganda baik bagi pemerintah maupun kepada masyarakat itu sendiri. Jujur  Selama ini pmi memgabaikan data hasil screnning Hb yang mana itu adalah SOP dari donor darah. Hasilnya harusnya benar-benar valid. Selama ini PMI juga membuang banyak stik rapid karena dari 100 yang di tes terdapat sekitar lebih dari 40 tidak layak donor  darah/anemis. Maka harus ada upaya kolaborasi seperti ini untuk memastikan semua berdampak baik. Pada sisi lain masih banyak yang harus dilakukan untuk memperkenalkan PMI kepada masyarakat. Selama ini kebanyakan kita hanya memahami PMI sebatas untuk donor darah dan kebencanaan jadi masih sebatas seperti pemadam kebakaran. Pada hal PMI harusnya harusnya memiliki system yang baik mulai dari pencegahan hingga pemberdayaan.

Sekali lagi terobosan ini perlu kerja kolaboratif, satu orkestra satu harmoni menuju generasi NTT yang lebih baik di masa depan. Salam Sehat!

(*)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top