Daerah

Di Rote Ndao, Kasus Ujaran Kebencian Berbau SARA Diselesaikan Melalui Upacara Adat

TEROPONGNTT, BAA –Kasus ujaran kebencian berbau SARA (suku, ras dan agama) yang mengancam keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara, ternyata bisa diselesaikan melalui upacara adat. Contoh nyata terjadi di Kabupaten Rote Ndao. Kasus penyebaran kebencian dengan pelaku Jayadi Rusani, yang sedang ditangani aparat Polres Rote Ndao akhirnya ditutup setelah diselesaikan melalui upacara adat.

Untuk menyelesaikan kasus penyebaran kebencian melalui facebook yang menimpa Jayadi Rusani, Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning, MM menggelar pertemuan dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Rote Ndao, Forum Kerukunam Umat Beragama (FKUB), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Forum Komunikasi Tokoh Adat Peduli Budaya (FKTAB), tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan  dan masyarakat Kabupaten Rote Ndao.

Pertemuan berlangsung di rumah jabatan Bupati Rote Ndao, di Dusun Ne’e Mok, Desa Sanggoen, Kecamatan Lobalain, Selasa (6/6/2017) siang.  Pelaku kasus ujaran kebencian lewat media social facebook, Jayadi Rusani beserta keluarga, juga dihadirkan pada pertemuan tersebut. Di Rote Ndao, Jayadi Rusani tercatat sebagai warga RT 01/RW 01 Kelurahan Namodale, Kecamatan Lobalain.

Setelah melalui pembahasan melalui pertimbangan yang mendalam, pertemuan yang prakarsai Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning, MM ini akhirnya bersepakat, kasus ujaran kebencian  yang sedang ditangani Polres Rote Ndao perlu ditarik kembali. Alasannya,Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk Rote Ndao didalamnya, meski berbeda-beda tetapi tetap bangsa Indonesia. Persatuan dan kesatuan bangsa harus tetap dijaga, tidak boleh ada pengkotak-kotakan.

Agar peristiwa ujaran kebencian yang bersifat mengancam kerukunan hidup berbangsa tidak terulang lagi, Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning, MM bersama seluruh komponen masyarakat Kabupaten Rote Ndao bersepakat menggelar upacara adat untuk menyelesaikan kasus penyebaran kebencian tersebut. Prosesi upacara adat ditandai dengan pemotongan seekor sapi jantan dan pembacaan pernyataan permohonan maaf dari pelaku kasus ujaran kebencian lewat facebook, dihadapan semua yang hadir.

Pemotongan hewan berupa seekor sapi sebagai simbol persatuan dan saling memaafkan. Sementara darah hewan sebagai sumpah adat bagi pelaku agar tidak mengulangi perbuatannya dan bagi seluruh masyarakat Kabupaten Rote Ndao untuk tetap menjaga kerukunan, kebersamaan dan rasa kekeluargaan.

Pada upacara ini, Bupati Rote Ndao bersama Wakil Bupati dan semua yang hadir, masing masing menyentuh darah hewan dengan tangan sebagai saksi bisu dan saksi hidup sikap bersama tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan salam dan do”a dari perwakilan pemuka agama di Rote Ndao kemudian diteruskan dengan buka puasa bersama.

Bupati Rote Ndao, Drs.Leonard Haning, MM pada kesempatan ini memgatakan, momentum atau peristiwa adat yang dilakukan harus dipahami sebagai edukasi bagi setiap masyarakat. Yakni bahwa perbedaan bukan alat untuk membedakan sesama saudara, namun merupakan momentum budaya yang mengikat dan mempersatukan dalam nuansa kebersamaan dan kekeluargaan.

Sebagai orang Rote Ndao yang berpegang teguh pada adat dan budaya, kata Leonard Haning, momentum upacara adat memiliki kekuatan tersendiri. Momentum upacara adat ini mengajak masyarakatnya untuk mampu melupakan masa lalu dan memandang masa depan dengan penuh harapan dan kedamaian.

Hadirnya para tokoh agama, tokoh masyarakat dan pimpinan lembaga, kata Leonard Haning, diharapan mampu mengungkapkan isi hati dihadapan publik dan bisa saling memaafkan. Sehingga tidak ada dendam dan kembali hidup dalam ketentraman.

Dihadapan Bupati Rote Ndao dan Forkompinda serta semua yang hadir, Jayadi Rusani mengaku telah bersalah karena postingan pernyataannya yang mengandung ujaran kebencian di media sosial facebook pada, Jumat (12/5/2017) lalu. Jayadi mengakui, isi pernyataan yang dipostingnya di media sosial facebook telah mengakibatkan terjadinya rasa tidak nyaman dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Selain itu, Jayadi juga mngakui bahwa, benar perbuatan hukum ujaran kebencian yang dilakukan dengan cara memposting pernyataan di media sosial facebook merupakan inisiatif sendiri. Tidak ada paksaan atau anjuran dari siapa pun.

Karena itu, Jayadi Rusani memohon maaf kepada Bupati Rote Ndao, Forkopimda, FKUB, FKDM, FPK, FKTAB, Tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan seluruh masyarakat Kabupaten Rote Ndao. Jayadi Rusani berjanji, tidak mengulangi perbuatan hukum yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain dan berpotensi mengganggu kenyamanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tersebut.

Jayadi Rusani juga membuat Surat Pernyataan Bersalah dan Permohonan Maaf atas perbuatannya. Jayadi Rusani mengatakan, surat pernyataan dibuat dirinya dengan sungguh-sungguh dan tanpa paksaan dari siapapun dan/atau pihak manapun.

Pdt. Dantje Ndoen, salah satu tokoh adat peduli budaya, mengatakan, inisiatif baik semua pihak, perlu diapresiasi karena peristiwa prosesi upacara adat merupakan hal yang terbaik. Gagasan Bupati Rote Ndao sebagai Maneleo Inahuk, sangat diapresiasi dan sebagai tokoh adat dirinya sangat setuju dengan gagasan cemerlang tersebut.

“ Sebagai lembaga, kami berterimakasih kepada bapak bupati karena telah menjadi contoh bahwa persoalan bisa diselesaikan melalui upacara adat dan telah menangani persoalan dengan baik. Pada prinsipnya kami menerima permohonan maaf ini dan tidak ada kata lain. Sebagai umat yang ber-Tuhan dan ber-adat, tak ada kata lain selain setuju. Harapan kami, siapa saja yang tinggal di Rote Ndao, kiranya hal ini menjadi pelajaran berharga. Jangan terlalu gampang untuk mengeluarkan bahasa bernada provokasi, yang bersifat menyakiti, apalagi berhubungan dengan agama dan budaya yang berpotensi memecah belah masyarakat dan kehidupan berbangsa, ” kata Pdt. Dantje Ndoen.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Rote Ndao, Pdt.Benyamin Zakarias juga mengatakan hal senada. Terhadap ujaran kebencian yang terjadi beberapa waktu lalu, kata Pdt.Benyamin, harus diapresiasi langkah Bupati Rote Ndao sebagai kepala daerah dan juga sebagai “Maneleo Inahuk”.

Pada intinya, kata Pdt.Benyamin, FKUB mengapresiasi hal baik ini dan berharap kasus ujaran kebencian hanya terjadi sekali ini saja. FKUB berharap, kejadian ini merupakan pengalaman pertama dan pengalaman terakhir sehingga jangan jatuh pada lubang yang sama di kemudian hari.

“Jangan menciderai persaudaraan kita yang sudah bertumbuh lama dalam motto “ITA ESA”, yang selama ini menjaga persatuan kita.” Kata Pdt.Benyamin.

Secara terpisah, Wakapolres Rote Ndao, Kompol Johanis Ch.Tanauw memberikan apresiasi pula kepada forkopimda. “Ini bukan hanya kehendak salah satu kelompok tertentu tetapi forkopimda, FKUB, tokoh adat, tokoh agama dan elemen lainnya bersepakat untuk menerima permohonan maaf dari pelaku. Sehingga hal ii perlu diapresiasi,” kata Tanauw.

Menurut Tanauw, proses secara hukum kasus ujaran kebencian sudah sampai pada tahap penyidikan. Sejumlah saksi sudah diperiksa dan penahanan terhadap pelaku sudah dilakukan penyidik kepolisian. Namun dengan adanya kesadaran dan kesepakatan dari semua elemen, pihak kepolisian harus sadar bahwa tidak semua kasus mesti berakhir di ranah hukum.

“Saya menghimbau kepada semua pihak untuk belajar dari kesalahan ini, untuk lebih berhati-hati menyampaikan hal-hal yang tidak perlu agar tidak merusak hubungan persaudaraan di Kabupaten Rote Ndao,” kata Tanauw. (*)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top