Dunia

Deteksi Tuberculosis Kader Terlatih Lewat Gerakan Ketuk Pintu

TEROPONGNTT, KUPANG –  Pada tahun 2017 lalu, tepatnya hari Rabu, 9 Maret 2017, Dinas Kesehatan Kota Kupang meluncurkan Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” guna mencari dan menemukan gejala Tuberculosis (TB) secara dini dalam wilayah Kota Kupang. Peluncuran gerakan ini dilakukan Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang, Rudy Priyono, S.KM, M.Kes dan dipusatkan di Puskesmas Oesapa.

Dengan diluncurkan Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” maka secara resmi para kader terlatih TB diutus mengunjungi setiap rumah penduduk di wilayah Kota Kupang. Para kader terlatih TB mengetuk pintu setiap rumah untuk memberikan informasi mengenai TB sekaligus melakukan skrining atau pelapisan gejala TB pada semua anggota keluarga di rumah yang dikunjungi.

Jika hasil skrining/pelapisan ditemukan gejala TB seperti batuk berdahak disertai gejala lain, maka anggota keluarga yang dikunjungi akan diberikan surat rujukan untuk pemeriksaan dahak di fasilitas layanan kesehatan (fasyankes). Gejala lain dimaksud, yakni berupa batuk bercampur darah, sesak nafas dan nyeri dada, nafsu makan menurun, berkeringat di malam hari, demam meriang berkepanjangan dan berat badan menurun, serta batuk berdahak yang dialami tidak harus berlangsung selama dua minggu berturut-turut.

Hingga tahun 2019 ini, Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” masih terus dilaksanakan di wilayah Kota Kupang. Tujuannya tetap sama, yakni mendeteksi, mencari dan menemukan gejala Tuberculosis (TB). Pelaksanaan Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” sebenarnya terlaksana atas kerja sama Dinas Kesehatan Kota Kupang dengan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Keuskupan Agung Kupang (KAK). Gerakan ini merupakan bagian dari aksi Temukan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis (TOSS TB).

Dengan Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat”, tentunya tidak sedikit gejala Tuberkulosis (TB) yang berhasil dideteksi, dan penderitanya dibawa ke fasyankes (puskesmas) untuk dilakukan pemeriksaan dan kemudian menjalani pengobatan. Hanya saja, pekerjaan sebagai Kader Terlatih TB adalah pekerjaan sukarela tanpa digaji, sehingga peminatnya sedikit.

Seperti di wilayah kerja Puskesmas Penfui misalnya, menurut Ria Lx selaku penanggung jawab ProgramTB puskesmas tersebut, jumlah kader terlatih TB di wilayah Puskesmas Penfui cuma tiga orang yakni Ibu Tabita, Ibu Anita dan Ibu Orpa. Dua kader terlatih TB berdomisili di wilayah Kelurahan Penfui, sementara satu kader terlatih TB berdomisili di wilayah Kelurahan Naimata.

“Yang merekrut Kader Terlatih TB adalah Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Keuskupan Agung Kupang (KAK), bukan pihak puskesmas atau dinas kesehatan. Sampai sekarang kader terlatih TB itu masih terus bekerja di wilayah Puskesmas Penfui yang mencakup tiga kelurahan yakni Kelurahan Penfui, Kelurahan Naimata dan Kelurahan Maulafa,” kata Ria Lx ketika ditemui saat berkunjung ke rumah salah satu penderita TB di wilayah RT 02, RW 01 Kelurahan Naimata, Kota Kupang, Rabu (24/4/2019) siang.

Jika menemukan gejala TB, kata Ria Lx, Kader Terlatih TB akan mengarahkan penderita untuk melakukan pemeriksaan dahak ke Puskesmas Penfui. Jika ternyata positif menderita TB, penanganan lebih lanjut dengan pengobatan akan ditangani petugas puskesmas. Kader Terlatih TB hanya bertugas mencari dan menemukan gejala TB ke rumah-rumah warga.

Sementara untuk pengobatan, kata Ria Lx, setiap penderita TB akan diawasi oleh seorang Pengawas Minum Obat (PMO) yang diambil dari keluarga atau kerabat terdekat yang tinggal satu rumah dengan penderita TB. Tugas PMO adalah mengawasi dan mengingatkan penderita TB untuk minum obat tepat waktu dan tepat dosis. Tidak boleh terlambat minum obat.

Jika persediaan obat TB sudah hampir habis, kata Ria Lx, PMO segera mengingatkan penderita dan melapor ke puskesmas agar segera ditindaklanjuti. Apakah penderita harus melanjutkan meminum obat ataukah sudah selesai pengobatan. Jika pengobatan selesai, pihak puskesmas akan melakukan pemeriksaan apakah penderita sudah benar-benar sembuh ataukan belum dan harus dilanjutkan dengan pengobatan tahapan berikutnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kupang, Sri Wahyuningsih, SKM, M.Kes yang dikonfirmasi melalui ponselnya, Minggu (28/4/2019) siang, mengatakan, Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” guna mencari dan menemukan gejala Tuberculosis (TB) secara dini dalam wilayah Kota Kupang, hingga saat ini masih terus dilaksanakan. Gerakan ini sangat penting dalam upaya menyukseskan program Menuju Eliminasi TB tahun 2035.

“Gerakan Ketuk Pintu dari rumah ke rumah untuk mendeteksi gejala TB masih terus dilaksanakan hingga saat ini. Ada banyak kegiatan yang dilakukan dinas kesehatan dalam upaya eliminasi TB di wilayah Kota Kupang. Salah satunya adalah dengan gerakan ketuk pintu,” kata Sri Wahyuningsih.

Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” sangat penting dilaksanakan, kata Sri Wahyuningsih, karena penderita cenderiung merasa gejala TB sebagai penyakit batuk biasa. Apabila tidak dilakukan pemeriksaan dini, penderita menjadi tidak menyadari kalau dirinya menderita TB, dan baru kaget kalau kondisi sakitnya sudah parah.

Menurut Sri Wahyuningsih, jumlah penderita TB di Kota Kupang tahun 2016 tercatat sebanyak 838 kasus, dan pada tahun 2017 tercatat sebanyak 739 kasus. Sementara pada tahun 2018, kasus penderita TB di Kota Kupang tercatat sebanyak 504 kasus, dan termasuk paling tinggi kasus TB dibandingkan kabupaten-kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal ini, kata Sri Wahyuningsih, menunjukan bahwa pemerintah melalui dinas kesehatan harus tetap memberi perhatian serius terhadap upaya mengeliminasi penyakit tuberculosis (TB). Terutama dimulai dari upaya penanggulangan dan cakupan penemuan kasus TB aktif hingga bagaimana penderita Tb menjalani pengobatan.

Masih tingginya angka penderita TB inilah, kata Sri Wahyuningsih, yang mendorong Dinkes Kota Kupang untuk semakin giat melaksanakan program Peduli Indonesia Sehat  dan Inovasi Penanggulangan TB melalui aksi TemukanTuberkolosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB).

Sri Wahyuningsih berharap, pelaksanaan program Menuju Eliminasi TB tahun 2035 terus berjalan baik mulai dari deteksi gejala TB melalui Gerakan “Ketuk Pintu di Masyarakat” guna mencari dan menemukan gejala Tuberculosis (TB) secara dini dalam wilayah Kota Kupang. Jika deteksi dini dilakukan secara baik, pelaksaan pengobatan bagi penderita TB menjadi tidak sulit.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top