Daerah

Dari Rumah Bapak Angga Menuju Kota Kupang Eliminasi Tubercolosis 2035

TEROPONGNTT, KUPANG – Bapak Angga, bukan nama sebenarnya, sedang makan siang ketika petugas Puskesmas Penfui mendatangi kediamannya di wilayah RT 02, RW 01 Kelurahan Naimata, Kota Kupang, Rabu (24/4/2019) sekitar pukul 12.15 wita. Petugas Puskemas Penfui yang datang bernama ibu Ria Lx, perawat yang menangani pasien penderita Tubercolosis (TB).

Saat itu, Bapak Angga sedang bersama istri dan seorang cucu mereka yang berusia sekitar 1 tahun lebih. Anggota keluarga yang lain mungkin sedang keluar atau sedang tidak berada di rumah. Mengetahui ada yang datang, bapak Angga kemudian berhenti sejenak dari makan siangnya dan langsung menyambut petugas puskesmas tersebut.

Rumah yang didiami Bapak Angga dan keluarga adalah rumah permanen, berdinding tembok dan berlantai keramik. Ukurannya cukup besar, mungkin sekitar 7 x 9 meter persegi. Di samping Timur rumahnya juga ada kos-kosan empat pintu. Dari luar terlihat rumah tersebut tampak bersih.

Kepada Bapak Angga, petugas puskesmas ini bertanya tentang kondisi kesehatannya dan obat penyakit TB yang diberikan, Petugas puskesmas pun menasihati kalau obat yang diberikan harus diminum tepat waktu dan tepat dosis. Tidak boleh terlambat dan harus serius minum obat. Istrinya pun diminta untuk membantu mengawasi dan menasihati Bapak Angga, agar rajin dan serius minum obat supaya bisa sembuh.

Bapak Angga mengatakan, ia tidak tahu bagaimana penyakit TB bisa masuk dan menggerogoti tubuhnya. Namun, kini dirinya sudah minum obat TB dari Puskesmas Penfui, sejak dua minggu yang lalu. Obat diminumnya setiap hari sesuai nasihat petugas Puskesmas Penfui. Ia akan terus serius minum obat karena ingin sembuh. Apalagi sejak mulai minum obat, tubuhnya terasa berangsur-angsur lebih segar dan sehat lagi.

Sebagai petugas yang menangani penderita TB, Ria Lx sering turun ke kediaman pasien atau penderita TB untuk memantau dan mengingatkan penderita agar rajin dan serius minum obat. Karena sesungguhnya, penyakit TB bisa disembuhkan dan bukan penyakit keturunan.

“Kita terus mengingatkan, tapi semuanya tergantung penderitanya. Yang kita lakukan adalah berusaha agar penderita paham atau mengerti tentang penyakit TB dan kemudian serius menjalani pengobatan. Karena itu, keluarga dalam rumah harus ikut membantu mengingatkan dan mengawasi,” kata Ria Lx.

Menurut Ria Lx, setiap penderita TB didampingi dan diawasi oleh seorang Pengawas Minum Obat (PMO) yang diambil dari salah satu anggota keluarga atau kerabat terdekat yang tinggal bersama. PMO bertugas mengawasi dan mengingatkan penderita TB, apakah sudah minum obat atau belum, minum obat tepat dosis dan tepat waktu atau tidak. Begitu pun dengan pasien bernama bapak Angga tersebut.

Jika stok obat hampir habis dan ada efek samping yang ditimbulkan pada tubuh penderita setelah minum obat TB, PMO bertugas menginformasikan kepada petugas puskesmas. Sehingga bisa segera ditangani dan penderita tetap terus minum obat sampai selesai.

Keberadaan Pengawas Minum Obat (PMO) sangat penting, kata Ria Lx, karena kadang-kadang penderita TB tidak serius dalam menjalani pengobatan. Apalagi obat TB harus diminum tetap waktu dan tidak boleh ditunda, serta harus tepat dosisnya.

Jika PMO tidak mengabarkan perkembangan kondisi penderita TB secara rutin, sebagai petugas puskesmas, Ria Lx harus segera melakukan pemantauan ke kediaman penderita TB. Selain melakukan pemantauan rutin secara terjadwal agar perkembangan pengobatan penderita berjalan sesuai harapan.

“Begitulah bentuk perhatian dan keseriusan pemerintah melalui petugas kesehatan dalam memberantas atau mengeliminasi penyakit TB. Walaupun, petugas kesehatan juga terancam terjangkit penyakit TB karena virus TB menyebar melalui udara yakni lewat pernapasan,” kata Ria Lx.

Setelah memastikan Bapak Angga terus menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, Ria Lx kemudian pamit meninggalkan kediaman Bapak Angga, pria yang mengaku telah berusia 65 tahun tersebut. Ria Lx berharap pasiennya itu bisa sembuh dari penyakit TB yang diderita.

Sehuah Skripsi berjudul “Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Kualitas Hidup Penderita Tuberkulosis (TB) di Puskesmas Penfui Tahun 2019” yang ditulis mahasiswi Program Studi KeperawatanSekolah Tinggi kesehatan (Stikes) Nusantara Kupang, Maria Magdalena Luangkali, menyebutkan bahwa Tuberkulosis merupakan suatu masalah kesehatan yang seringkali meresahkan masyarakat umum karena masih dianggap sebagai suatu kutukan atau sihir dalam masyarakat dan sampai sekarang tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan global.

Bahkan menurut laporan World Health Organization (WHO), pada 2017 terdapat sepuluh juta orang menderita tuberkulosis dan tuberkulosis merupakan satu dari sepuluh penyebab kematian terbesar di dunia. Pada 2016 diperkirakan 10,3 juta orang menderita tuberkulosis, diantaranya 90% dewasa dan 10% pada anak-anak dengan 45% nya berada di kawasan Asia.

Sementara laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukan, kasus tuberkulosis di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 0,3 persen dari jumlah penduduk Indonesia, sedangkan  menurut laporan Dinas Kesehatan Provinsi NTT tahun 2016, jumlah keseluruhan kasus tuberkulosis ialah 1.320, dimana 794 kasusnya ialah kasus baru.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang, Dokter Ari Wijana yang ditemui di kantornya, Senin (22/4/2019), menjelaskan, jumlah penderita TB di Kota Kupang tergolong paling tinggi untuk Provinsi NTT dibanding kabupaten lainnya. Sesuai data Dinkes Kota Kupang, kasus penderita TB di Kota Kupang tercatat sebanyak 838 kasus pada tahun 2016, dan pada tahun 2017 tercatat sebanyak 739 kasus.

Sementara pada tahun 2018, kasus penderita TB di Kota Kupang tercatat sebanyak 504 kasus. Secara keseluruhan, penderita TB di NTT hingga tahun 2017 telah mencapai 7.215 kasus.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kupang, Sri Wahyuningsih yang ditemui wartawan secara terpisah, menambahkan bahwa Dinas Kesehatan Kota Kupang terus memberi perhatian serius dalam upaya mengeliminasi penyakit tuberculosis (TB). Terutama dimulai dari upaya penanggulangan dan cakupan penemuan kasus TB aktif untuk selanjutnya segera menjalani pengobatan.

Yang sering menjadi kendala, kata Sri Wahyuningsih, adalah adanya stigma yang menyebabkan penderita atau keluarga penderita cenderung menutup-nutupi kalau anggota keluarga mereka menderita TB. Akibat lanjutnya, penderita TB menjadi tidak tuntas dalam menjalani pengobatan secara rutin, yang tentunya dengan berbagai macam alasan.

“Salah satu penyebab gagal dan bertambahnya penderita, yakni tidak tuntas berobat dan adanya stigma buruk yang membuat penderita atau keluarga menjadi cenderung menutup-nutupi,” kata Sri Wahyuningsih.

Meski demikian, kata Sri Wahyuningsih, pemerintah Kota Kupang melalui dinas kesehatan terus bertekad menyukseskan program menuju eliminasi TB tahun 2035. Karena masih tingginya angka penderita TB, maka memicu Dinkes Kota Kupang untuk menggiatkan pelaksanaan program Peduli yakni TB Indonesia Sehat  dan inovasi penanggulangan TB melalui aksi TemukanTuberkolosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB).

Selama ini, kata Sri Wahyuningsih, pemerintah melalui dinas kesehatan telah melakukan berbagai upaya dan strategi untuk menemukan dan mengeliminasi penyakit TB. Strategi yang dilakukan adalah peningkatan akses layanan TOSS TB bermutu, agar pengobatan penderita TB sesuai dengan standar dan berjalan baik.

Pola penemuan penderita baru TB, kata Sri Wahyuningsih, dilakukan melalui penemuan aktif kasus TB di lingkungan keluarga, masyarakat, populasi beresiko tinggi dan warga yang belum terjangkau petugas puskesmas dan kader. Selain itu, pola penemuan intensif TB melalui penguatan kolaborasi layanan Tubercolosis-HIV (TB-HIV), Tubercolosis-Diabetes Melitus (TB-DM), Tubercolosis-Kesehatan Ibu dan Anak (TB-KIA), ibu hamil dan investigasi kontak 10-15 orang yang erat dengan penderita TB sebagai langkah deteksi dini kemungkinan penularan.

Sri Wahyuningsih berharap, masyarakat semakin sadar dan memahami tentang penyakit Tubercolosis (TB), sehingga tidak malu dan menutup-nutupi jika ada kerabat atau anggota keluarga menderita penyakit tersebut. Karena sesungguhnya penyakit TB bisa diobati dan bukan penyakit keturunan.

Tuberculosis atau disingkat TB merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Tuberculosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara.

Karena itu, tak perlu malu untuk berobat dan buatlah diri sembuh. Stigma bahwa penyakit TB adalah penyakit keturunan atau disebabkan kekuaan sihir adalah mitos belaka. Sukseskan program eliminasi Tubercolosis (TB) tahun 2035 dan jadikan Kota Kupang benar-benar sebagai Kota KASIH (Karya, Aman, Sehat, Indah, Harmonis). Semoga….!!!

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top