Dunia

Bunda Theresa dari Kalkuta Dinobatkan Jadi Santa

TEROPONGNTT, VATIKAN — Vatican menobatkan Bunda Theresa menjadi ‘Santa Theresa dari Kalkuta’. Bunda Theresa dinyatakan sebagai “santa belas kasih” ( a saint of mercy) dan ibu kaum miskin (a mother of the poor) oleh Paus Fransiskus, seorang Paus yang menaruh perhatian sangat besar kepada orang-orang miskin, orang-orang yang sengsara dan kaum pengungsi.

Kanonisasi “beata” Bunda Theresa menjadi “Santa Theresa dari Kalkuta” oleh Paus Fransiskus berlangsung di alun-alun Basilika Santo Petrus, Vatikan, Minggu (4/9/2016).  Penobatan Bunda Theresa sebagai Santa membawa kegembiraan bagi dunia.

Bunda Theresa meninggal tahun 1997 dan mendapat beatifikasi atau dinobatkan menjadi “beata” oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 2003. Beata artinya “yang berbahagia”, yaitu langkah pertama untuk dinobatkan sebagai Santa.

Nama asli Bunda Theresa adalah Agnes Gonxha Bojaxhiu. Gonxha berarti “kuncup mawar” atau “bunga kecil” di Albania. Bunda Theresa lahir tanggal 26 Agustus 1910 di Uskub, Kekaisaran Ottoman (sekarang Skopje, ibukota Republik Makedonia). Ayahnya bernama Nikollë Bojaxhiu dan ibunya bernama Drana Bojaxhiu. Meskipun lahir tanggal 26 Agustus, namun Bunda Theresa menganggap tanggal 27 Agustus, hari ia dibaptis, menjadi hari ulang tahunnya.

Bunda Theresa adalah anak bungsu tiga bersaudara dari sebuah keluarga di Shkoder, Albania. Ketika ayahnya meninggal tahun 1919, Bunda Theresa masih berusia delapan tahun. Oleh ibunya, Bunda Theresa dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma. Ayahnya, Nikollë Bojaxhiu berasal dari Prizren, Kosovo sementara ibunya diduga berasal dari sebuah desa dekat Dakovica, Kosovo.

Menurut sebuah biografi oleh Joan Graff Clucas, pada tahun-tahun awal, Bunda Theresa terpesona oleh cerita-cerita dari kehidupan misionaris dan pelayanan mereka di Benggala. Karena itu, pada usia 12 tahun, Bunda Theresa merasa yakin dan berkomitmen untuk kehidupan beragama dan merasa terpanggil melayani orang miskin.  Resolusi akhirnya diambil pada tanggal 15 Agustus 1928, sewaktu berdoa di kuil Madonna Hitam di Letnice, tempat di mana ia sering pergi berziarah.

Bunda Theresa meninggalkan rumah pada usia 18 tahun untuk bergabung dengan Kesusteran Loreto sebagai misionaris. Sejak itu, ia tidak pernah lagi melihat ibu atau saudara perempuannya.

Awalnya, Bunda Theresa pergi ke Biara Loreto di Rathfamham, Irlandia untuk belajar bahasa Inggris, bahasa yang digunakan oleh Kesusteran Loreto untuk mengajar anak-anak sekolah di India. Ia baru tiba di India tahun 1929 dan memulai novisiatnya (pelatihan) di Darjeeling, dekat pegunungan Himalaya. Di tempat inilah Bunda Theresa belajar bahasa Bengali dan mengajar di Sekolah St. Teresa, sebuah sekolah yang dekat dengan biaranya.

Bunda Theresa mengambil sumpah agama pertamanya sebagai seorang biarawati pada tanggal 24 Mei 1931. Saat itu, Bunda Theresa yang bernama asli Agnes Gonxha Bojaxhiu memilih untuk diberi nama Therese de Lisieux, santo pelindung para misionaris. Namun karena salah satu biarawati di biara sudah memilih nama itu, Bunda Theresa memilih pengejaan Spanyol sehingga menjadi Theresa.

Bunda Theresa mengambil sumpah sucinya pada tanggal 14 Mei 1937, saat sedang pelayanan sebagai guru di sekolah biara Loreto di Entally, sebelah timur Kalkuta. BundaTheresa bertugas disana selama hampir dua puluh tahun dan pada tahun 1944 diangkat sebagai kepala sekolah.

Meskipun Bunda Theresa menikmati mengajar di sekolah, ia merasa terganggu oleh kemiskinan di sekitarnya. Kelaparan di Benggala tahun 1943 membawa penderitaan dan kematian ke kota serta kekerasan Hindu-Muslim pada Agustus 1946 membuat kota dalam keputusasaan dan ketakutan.

Pada tahun 1950, Bunda Theresa kemudian mendirikan Misionaris Cinta Kasih (Missionaries of Charity; M.C.) di Kalkuta, India. Selama lebih dari 47 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sambil terus membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain.

Mulai tahun 1970-an, Bunda Theresa menjadi terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih yang didirikannya pun terus berkembang sepanjang hidupnya. Di saat saat kematiannya, Bunda Theresa telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan dan sekolah.

Karyanya telah menginspirasi kalangan pemerintah, organisasi sosial dan para tokoh terkemuka, namun tak sedikit filosofi dan implementasi Bunda Theresa yang juga menghadapi banyak kritik. Bunda Theresa juga menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna tahun 1980 dan hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1979.

Bunda Theresa merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah. Saat peringatan kelahirannya yang ke-100 pada tahun 2010, seluruh dunia menghormatinya dan karyanya dipuji oleh Presiden India, Pratibha Patil.

Paus Fransiskus memuji riwayat hidup Bunda Theresa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri merawat orang miskin dan melarat di Kalkuta, India. Menurut Paus Fransiskus, apa yang dilakukan Bunda Teresa adalah kritik atas dunia modern yang menuai ketidakpedulian atas penderitaan, kelaparan, dan eksploitasi manusia.

Dalam pidatonya di depan relawan dan penyelamatan korban gempa di Italia, Rabu (24/8/2016), Fransiskus mengkritik cara pandang manusia modern dalam melihat penderitaan. “Banyak yang memilih tidak melihat kelaparan, penyakit dan eksploitasi. Ini adalah dosa besar. Ini juga merupakan dosa modern, dosa dari hari ini,” ucap Paus Fransiskus.

Sejak menjadi paus pada 2013, Paus Fransiskus mendorong lembaga-lembaga Katolik memberikan perhatian kepada kebutuhan orang-orang yang terpinggirkan. “Dunia membutuhkan solidaritas yang konkret,” tutur Paus Fransiskus.

Sementara itu, penjaga sebuah toko makanan ringan dan rosario, Tanveer Ahmed, memiliki memori terhadap Bunda Theresa. Ia pernah melihat Bunda Theresa dan suster lain mengambil pasien kusta yang sakit parah di jalan, sementara banyak orang lain bergeming.

“Kami berjuang satu sama lain. Kami saling membunuh. Tapi, jika anda ingin melihat cinta, silahkan lihat Bunda Theresa,” kata Ahmed. “Saya percaya Bunda Theresa berada di sisi Allah,” tambahnya. (berbagai sumber/Wikipedia/Tempo.Co)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top