Daerah

Beginilah Cerita Mama Editendis Ketika Sampel Darahnya Diambil Pelaku

TEROPONGNTT, KUPANG – Salah satu warga RT 28 RW 08 Kelurahan Kayu Putih, Kota Kupang yang diambil sampel darah di rumahnya oleh pelaku dari CV. Karya Mandiri Persada Indonesia adalah mama Editendis D Bali atau biasa disapa Mama Tokan. Setelah sampel darahnya diambil, barulah mama Editendis merasa takut dan kuatir.

Sementara tiga warga lain yang juga telah diambil sampel darahnya oleh para pelaku adalah Ketua RT 28, Alfons Ampolo dan istrinya, serta istri dari Ketua RW 08, Mama Marsel Bian.

Mama Editendis D Bali ketika ditemui wartawan di kediamnnya, Senin (29/5/2017) petang, menceritakan kronologis kejadian hingga sampel darahnya diambil para pelaku. Diceritakan Mama Editendis atau biasa disapa Mama Tokan, pada Kamis (25/5/2017) sekitar pukul 10.00 wita, setelah dirinya pulang dari Gereja karena hari raya Kenaikan Yesus Kristus, tiba-tiba datang dua perempuan ke rumahnya.

Kedua perempuan itu, salah seorangnya mengenakan baju perawat warna putih. Kepada Mama Editendis, kedua perempuan tersebut mengatakan, kedatangan mereka untuk melakukan sosialisasi kesehatan. Sehingga dengan ramah, Mama Editendis mempersilahkan keduanya masuk.

Selanjutnya, kata Mama Editendis, kedua perempuan itu mengambil biodata Mama Editendis dan termasuk menanyakan golongan darah dan keluhan penyakit yang sering diderita. Dalam percakapan, Mama Editendis diingatkan kedua perempuan muda itu agar tidak terlalu sering minum obat kimiawi. Sebaiknya minum ramuan-ramuan saja asalkan jangan ramuan yang dibuat sendiri karena tidak terukur dengan baik dosisnya.

Kepada Mama Editendis, kedua perempuan itu mengaku sebagai petugas dari CV Karya Mandiri Persada Indonesia. Lokasi kantor mereka di kompleks belakang SMP Negeri 5 Kupang. Mereka juga mengaku tamat dari pendidikan kesehatan di Undana dan salah satu Stikes di Kota Kupang.

Setelah biodata diambil, kata Mama Editendis, kedua perempuan itu lalu mengatakan, kalau mereka akan mengambil sampel darah supaya diperiksa sehingga bisa diketahui penyakit apa saja yang ada di tubuh Mama Editendis. Setelah mengatakan hal itu, salah seorang perempuan mengeluarkan kertas dari tasnya.

Pada kertas tampak tulisan anjuran dan larangan. Sementara pada kertas lainnya tertulis Daftar Periksa dan Harga dengan total yang harus dibayar kalau diperiksa adalah Rp 850 ribu. Karena Mama Editendis menolak karena biayanya terlalu mahal, kedua perempuan itu mengatakan, kalau sudah terdaftar maka hanya bayar Rp 50 ribu saja.

Kedua perempuan lalu mengatakan, sampel darah Mama Editendis bisa diambil saat itu atau bisa juga diambil di kantor CV Karya Mandiri Persada Indonesia, di kompleks belakang SMP Negeri 5 Kupang. Karena melalui pengambilan darah bisa mengetahui semua penyakit yang diderita, maka Mama Editendis menyatakan bersedia diambil sampel darahnya.

Setelah Mama Editendis bersedia, salah satu perempuan pergi dan ternyata dia memanggil dua teman prianya yang berdiri di pertigaan jalan. Kedua pria itu datang membawa jarum dan mikroskop beserta laptop. Mereka lalu mengambil sampel darah Mama Editendis.

Cara pengambilan darahnya, kata Mama Editendis, jarum ditusukan sedikit ke kulit jarinya supaya darah keluar. Setelah itu, darah ditaruh diatas kaca tipis berbentuk segi empat, kemudian ditutup lagi dengan kaca tipis dari atasnya. Setelah itu baru ditaruh di mikroskop.

“Jarum warna biru. Karena saya biasanya takut kalau diambil darah, jadi saya hanya sorong tangan sambil tutup mata. Awalnya mereka usap dulu jari dengan kapas alcohol. Waktu mau ambil darah dari jari tengah temannya bilang di jari manis saja karena jari tengah saya pakai cincin,” cerita Mama Editendis.

Yang juga menarik, setelah sampel darahnya ditaruh di mikroskop, salah seorang perempuanberkata, ada yang onar-onar. Tidak tahu pasti, mungkin mikroskopnya konek dengan laptop, sehingga petunjuk tentang darah itu dapat dilihat di lapotop.

Saat para pelaku dari CV Karya Mandiri Persada Indonesia itu sedang melihat di layar lapotop, kata Mama Editendis, datang Sekretaris RT 28 bernama pak Andre lalu bertanya kepada para pelaku, apakah mereka punya surat ijin atau tidak?. Salah seorang perempuan lalu menunjukan sebua surat tapi itu surat tugas dari kantor atau CV tempat mereka bekerja.

Karena tidak bisa menunjukan surat ijin dari pemerintah atau instansi terkait, maka pak Andre selaku Sekretaris RT 28 mengatakan, sebaiknya para pelaku berkemas dan pulang saja.

Beberapa saat kemudian, kata Mama Editendis, datang seorang tetangganya yang juga berprofesi sebagai bidan yakni Bidan Lidia, lalu bertanya lagi tentang surat ijin yang membolehkan para pelaku mengambil sampel darah warga. Saat itu para pelaku masih menutup dan menyimpan peralatan laptop dan mikroskop mereka.

Makin banyak warga yang protes atas tindakan pengambilan sampel darah, membuat Mama Editendis, menjadi bingung. Mengapa bisa demikian kejadiannya. Setelah diberitahu para tetangganya kalau pengambilan sampel darah tersebut membahayakan kesehatan dan sudah banyak informasi beredar di media social, barulah Mama Editendis, sadar.

“Saya waktu itu bingung, kenapa jadi begini?. Karena saya belum tahu informasi soal penyebaran virus atau penyakit melalui pengambilan sampel darah. Saya jadi takut, karena darah saya sudah diambil. Ada yang beritahu saya dan saya katakan kepada mereka, mengapa tidak beritahu saya sebelumnya?,” kata Mama Editendis.

Meski demikian, Mama Editendis mengatakan, dirinya saat itu tetap membayar uang Rp 50 ribu kepada petugas dari CV Karya Mandiri Persada Indonesia. Karena sesuai perjanjian awal, kalau sudah ambil darah maka bayar Rp 50 ribu.

Ketika ditanya wartawan tentang apa yang ia rasakan selanjutnya, Mama Editendis mengatakan, dirinya masih merasa takut dan kuatir kalau sudah ada penyakit berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya. Karena itu ia berencana melakukan pemeriksaan kesehatan lagi ke puskesmas atau rumah sakit untuk mengetahui kondisi kesehatannya setelah sampel darahnya diambil. (*)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top