Daerah

Begini Kata Naek Tigor Sinaga Tentang Sinergi Bank Indonesia-OJK dan Pertumbuhan Ekonomi di NTT

TEROPONGNTT, KUPANG — Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga mengatakan, berdasarkan undang-undang (UU), Bank Indonesia bertanggungjawab pada kebijakan-kebijakan keuangan yang sifatnya makro, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada kebijakan yang sifatnya mikro.

Karena itu, kata Naek Tigor Sinaga, sinergi antara BI dan OJK dengan membuat program bersama sangat bermanfaat supaya koordinasi bisa menjadi lebih kuat. Sehingga, bagaimana meningatkan akses keuanagan bagi masyarakat dan pengendalian inflasi bisa mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hal ini dikatakan Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga saat membuka kegiatan Pelatihan Wartawan 2019 dengan tema ‘Sinergi Antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi NTT dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT” yang digelar di Hotel Padadita Waingapu, Sumba Timur, Kamis (29/2/2019).

Kegiatan pelatihan diikuti 30 wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik (TV, Radio, Online). Kegiatan ini dibuka Kepala BI Perwakilan NTT, Naek Tigor Sinaga bersama Kepala OJK Perwakilan NTT, Robert Sianipar.

Sesuai data perkembangan pencapaian makro ekonomi di Provinsi NTT, kata Naek Tigor Sinaga, pada tahun 2018, perekonomian NTT tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.  Pertumbuhan ekonomi NTT naik menjadi 5,13 persen, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 5,11 persen.

“Kenapa tumbuh hanya 5 persen dan bagaimana kita bisa menenekan angka kemiskinan?. Kita butuh suatu loncatan-loncatan untuk bagaimana kita bisa tumbuh dan harusnya tumbuh diatas 7 persen. Kita harus mengembangkan perekonomian di desa, utilisasasi dana-dana yang tersalur ke desa-desa melalui BUMDes, bagaimana kita optimalkan penggunaan untuk menggerakan perekonomian mulai dari tingkat desa,” kata Naek Tigor Sinaga.

Karena kalau tumbuh hanya sekitar 5 persen dengan kondisi PDB (pendapatan domestic bruto) perkapita yang masih jauh di bawah nasional, menurut Naek Tigor Sinaga, otomatis NTT harus tumbuh lebih jauh  untuk bisa mencapai taraf kehidupan yang lebih baik.

“Kita mau sektor prioritas yang dikembangkan oleh Gubernur NTT bisa kita dorong. Bagian BI, bisa berkontribusi dalam pendampingan klaster, UMKM, sementara dari OJK bisa bicara mengenai bagaimana akses keuangan kepada bank, industri keuangan, karena OJK dan BI akan membentuk tim percepatan akses keuangan daerah (TPAKD),” kata Naek Tigor Sinaga.

Dengan adanya kolaborasi dan sinergi antara BI dan OJK, kata Naek Tigor Sinaga, pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh signifkan sehingga bisa mengejar ketertinggalan. Asalkan, ketika pertumbuhan ekonomi naik, lanju inflasi bisa tetap terjaga.

“Tidak akan optimal bagi masyarakat apabila ternyata gaji naik, tetapi harga-harga juga naik dan itu disebut dengan inflasi. Makanya perlu kita lakukan TPAKD. Kalau pendapatan naik tetapi harga juga naik, itu juga percuma,” kata Naek Tigor Sinaga.

Menurut Naek Tigor Sinaga, pertumbuhan ekonomi NTT mengalami peningkatan meski tidak banyak, tetapi inflasi masih terkendali. Secara makro, pencapaian pertumbuhan ekonomi jangka panjang oke, tetapi belum memuaskan. Karena itulah perlu sinergi sebagai langkah untuk mensinkrokan program-program terutama dalam meningatkan akses keuangan dan pengendalian inflasi.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top