Daerah

Begini Kata Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat Ketika Diwawancara BBC Televisi London Tentang Taman Nasional Komodo

TEROPONGNTT, KUPANG — BBC Televisi London melakukan wawancara eksklusif dengan Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat, tentang pembangunan pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT) terutama tentang pengelolaan Taman Nasional Komodo (TNK). Termasuk menyangkut kebijakan penutupan TNK yang sempat menuai pro dan kontra di kalanganmasyarakat dan  pelaku pariwisata.

Wawancara eksklusif BBC Televisi London dengan Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat, dilakukan di ruang kerja Gubernur NTT, Selasa (21/5/2019). Saat diwawancara, Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat mengenakan busana sarung dari tenun ikat.

Kepada wartawan BBC Televisi London, Rebecca Henschke yang mewawancarainya, Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menegaskan, pentingnya perhatian dan tanggung jawab besar, terhadap kelangsungan hidup komodo.

“Komodo itu binatang purba yang hanya dimiliki oleh Nusa Tenggara Timur. Perlu tanggung-jawab besar, untuk membuat langkah-langkah kebijakan dalam menjaga komodo. Kita harus melihat cukupnya ketersediaan makanan dan keberadaan habitat yang baik, sehingga mereka dapat berkembang-biak dengan baik pula,” kata Viktor B Laiskodat.

“Saat ini, salah-satu permasalahan kita adalah minimnya ketersediaan makanan, seperti rusa yang selalu dicuri. Hal ini menyebabkan menurunnya ketertersediaan makanan, berbahaya bagi komodo. Kita akan menertibkan mereka yang mencuri rusa dan juga yang mencuri komodo,” tambahnya.

“Kita juga mau agar tidak ada manusia yang tinggal di Pulau Komodo. Mereka yang sekarang tinggal disana akan kita pindahkan ke Pulau Rinca atau Pulau Padar. Tentunya, dalam urusan memindahkan penduduk ke tempat yang lain itu tidak gampang. Menjadi tugas pemerintah, untuk mengatur hidup mereka agar lebih baik dan lebih layak. Kita akan buat kajian tentang itu,” kata Viktor B Laiskodat

“Kita mau menciptakan Taman Nasional Komodo sebagai alam liarnya komodo. Kita akan datang dan lihat kehidupan mereka yang liar. Jadi mereka mencari makan sendiri dengan agresif dan buas. Atraksi itu akan menarik bagi wisatawan, bagaimana ia mengejar, menangkap dan memakan hewan lain. Jadi, kita bukan memanjakan dengan memberinya makan dan komodo menjadi malas,” tambah Viktor B Laiskodat.

Viktor B Laiskodat mengatakan, kuota pengunjung pun perlu dibatasi. “Kita juga menjaga kuota maximum 50.000 orang pengunjung dalam satu tahun. Setiap pengunjung harus tercatat sebagai member dengan biaya US 1.000 dolar untuk satu tahun,” ungkap Viktor.

Awal dari kebijakan penutupan TNK ini, kata Viktor B Laiskodat, banyak yang menolak, tetapi kini banyak yang sudah setuju termasuk Presiden. “Kami juga membentuk tim dari pemerintah provinsi dan pusat, untuk mendiskusikan langkah-langkah yang akan dibuat dan juga besaran anggaran yang digunakan,” katanya.

“Selama ini kita tidak tahu secara jelas jumlah komodo atau makanan komodo itu sendiri, termasuk juga kondisi habitat alamnya. Makanya, kita akan gunakan teknologi detektor untuk mengetahui kondisi TNK, diantaranya jumlah komodo, makanan dan juga kondisi tempat tinggalnya. Dengan begitu, kita bisa mengambil langkah yang tepat seperti konservasi dan kecukupan makanan bagi mereka seperti rusa dan babi,” jelas Viktor B Laiskodat.

(*/siaran pers Biro Humas NTT)

 

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top