Daerah

Badarudin Bawa Perubahan di Lapas Kupang, Ini Yang Dilakukan…

FOTO : Suasana di Ruang Besuk Lapas Kupang

TEROPONGNTT, KUPANG – Sudah 8 bulan sejak dilantik tanggal 7 Januari 2019, Badarudin, A.Md, IP, S.HI menjadi Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas IIA Kupang. Meski belum setahun memimpin, sudah banyak perubahan yang terlihat dalam pelayanan bagi warga binaan di lapas tersebut.

Beberapa perubahan yang terlihat diantaranya, penataan ruang besuk dan kebersihan di dalam kawasan lapas dan lainnya, termasuk rencana pembenahan sistem persediaan air bersih di Lapas tersebut. Beberapa petugas Lapas dan juga salah satu warga binaan dalam obrolan singkat dengan wartawan di lapas itu, mengakui banyak perubahan terjadi di Lapas tersebut. Pelayanan warga binaan menjadi lebih baik dan lebih tertib.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Klas IIA Kupang, Badarudin, A.Md, IP, S.HI yang ditemui di ruang kerjanya, Rabu (2/10/2019) siang, mengatakan, sebagai kepala lembaga dan kepala pelayanan, ia harus melayani dengan baik dari hulu sampai ke hilir. Pelayanan harus sesuai dengan hak asasi manusia (HAM).

“Sebagai kepala lembaga dan kepala pelayanan, saya harus melayani dengan baik dari hulu sampai ke hilir. Bagaimana mereka (warga binaan) masuk dengan tidak ada penganiayaan, tidak ada dskriminasi di dalam, tidak ada pungutan liar. Pokoknya di sini semua proses berkaitan dengan hak-hak warga binaan, baik itu asimilasi, PP, CMB, remisi, semuanya gratis,” kata Badarudin.

Dengan tegas Badarudin mengatakan, jika ada petugas lapas sebagai bawahannya yang berani main-main, melakukan pungutan liar (pungli), akan disikat. Kalau kalapasnya sendiri yang minta setoran kepada warga binaan maka dirinya sebagai kapalas siap mundur dari jabatan.

“Berani ada yang main-main, melakukan pungutan liar, saya sikat dia. Kalau kalapasnya minta setoran dari mereka-mereka (warga binaan), maka Kalapasnya siap mundur. Bisa dicek sendiri. Ini penting dilakukan suapaya pelayanan itu memberikan dampak positif secara psikis kepada warga binaan,” tegas Badarudin.

Berkaitan dengan fasilitas sarana dan prasarana, Badarudin mengatakan, akan terus dibenahi menjadi lebih baik. Mulai dari penataan ruang besuk, fasilitas klinik kesehatan lengkap dengan dokter dan perawatnya, Posyandu Lansia,  fasilitas tempat ibadah seperti  Gereja, Masjid dan lainnya.

“Kita benahi. Ruang Besuknya sudah bagus. Dulu kursinya dari kursi batu, sekarang sudah pakai meja-meja dan kursi-kursi. Saya benahi sampai di dalam-dalam juga. Dulu nggak ada klinik, sekarang kita sudah punya Klinik Pratama. Dulu kalau mau ada rujukan dari Lapas ke rumah sakit besar, seperti Rumah Sakit Umum (RSU) Johanes, RSU Siloam, itu harus melalui puskesmas luar yakni Puskesmas Oesapa. Sekarang tidak lagi karena kita sudah ada klinik pratama sendiri, sudah ada dokter dan perawatnya sendiri. Kita kerja sama dengan Dinkes Provinsi NTT dan Dinkes Kota Kupang,” kata Badarudin.

Sementara menyinggung soal fasilitas air bersih, Badarudin menjelaskan, memang selama ini kebutuhan air bersih bagi warga binaan terpenuhi, tetapi systemnya masih kurang bagus karena hanya mengandalkan mobil tangki. Lapas Kupang punya dua sumur bor, yang satunya rusak dan sumur bor yang satunya masih dipakai, tetapi kurang maksimal. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan air berish harus dilekukan dengan mengganti instalasi air.

“Itulah pemenuhan-pemenuhan kebutuhan mereka. Makanya saya ingin bekerja sama dengan P2AT atau sekarang disebut ATAB (Air Tanah Air Baku). Kita juga rencananya ingin bekerja sama  dengan Cipta Karya berkaitan dengan instalasi airnya, mungkin ada pembuatan bak penampung air dan lain sebagainya. Karena, dalam proses pembinaan itu, saya sebagai operator harus bekerja sama dengan stakeholder di luar,” kata Badarudin.

Kejasama dengan stakeholder, kata Badarudin, karena kehadiran lembaga pemasyarakatan (lapas) juga berfungsi membantu pemerintah daerah di bidang penegakan hukum yaitu pembinaan. Karena yang dibina adalah masyarakat NTT, masyarakat di Kupang juga. Maka, sarana-prasarana bisa dibantu.

“Karena tujuan kita dalam pembinaan adalah memanusiakan manusia, mengembalikan  manusia seutuhnya.  Dalam artian, dia keluar dari sini sudah bisa berguna bagi keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara. Menjadi anggota masyarakat yang baik,” kata Badarudin.

Menyangkut peredaran narkoba, karena sering disebutkan kalau Lapas dan tahanan terkadang menjadi sarang narkoba, Badarudin mengatakan, selama kepemimpinnya tidak ada peredaran narkoba atau penggunaan narkoba di dalam lapas. Tidak ada pula mabuk-mabukan miras. Warga binaan dan lapas harus bebas dari narkoba dan mabuk-mabukan miras.

“Kalau dibilang jadi sarang narkoba, yang perlu kita lakukan adalah merubah mindsetnya, ruha cara berpikirnya. Apa bahaya narkoba, apa dampak negative kalau pakai narkoba terhadap dirinya, keluarga dan masyarakatnya. Karena itu kita harus mencegah. Salah satu pencegahan melalui cara merubah mindsetnya, perubahan pola pikir.  Jadi apa yang dilakukan dia tahu persis apa dampak positif dan negatifnya,” kata Badarudin.

Karena menurut Badarudin, banyak orang yang pakai narkoba hanya ikut-ikutan dan tidak tahu akibatnya.  Tapi kalau ccara berpikir atau pola pikirnya sudah diperbaiki, dia akan mengerti dampak negatifnya. Maka pasti tidak memakai narkoba lagi.

“Kemarin di lapas ini juga ada pemeriksaan atau tes narkoba dari BNN Provinsi NTT. Semua warga binaan dan petugas lapas diperiksa. Saya sebagai kepala lapas diperiksa pertama. Hasilnya nihil, tidak ada yang pakai narkoba di Lapas Kupang,” tegas Badarudin.

Sebagai pimpinan, tambah Badarudin, dirinya harus menjadi contoh bagi seluruh petugas lapas dan warga binaan.  Dan untuk melakukan sebuah perubahan dibutuhkan keteladanan, keberanian, ketegasan, bersikap adil dan tidak boleh diskriminasi. Itu menjadi tekadnya pula untuk membawa perubahan dalam pelayanan di Lapas Kupang.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top