Daerah

Antara Imlek dan Hujan di Kota Kupang

TEROPONGNTT, KUPANG – Seharian penuh hujan mengguyur Kota Kupang dan sekitarnya, Kamis (2/2/2017). Bahkan, jika menelisik perkiraan cuaca di website bmkg, hujan lebat juga mengguyur kota-kota lainnya di Provinsi NTT. Apakah hujan lebat ini ada kaitannya dengan hari Imlek atau tahun baru Cina yang belum seminggu berlalu..?

Jika tidak salah ingat, beberapa hari sebelum hari Imlek, Sabtu (28/1/2017), Kota Kupang dan sekitarnya juga diguyur hujan berturut-turut. Cuaca sedikit cerah hanya terjadi pada hari Imlek. Hari berikutnya, Kota Kupang kembali diguyur hujan hingga hujan sehari penuh terjadi pada, Kamis (2/2/2017).

Akibat hujan lebat yang terjadi beberapa hari terakhir, terjadi pula kasus warga hanyut terseret banjir. Kasus banjir yang cukup heboh adalah ketika tiga buruh PT. Waskita Karya tewas setelah terseret banjir saat berteduh dibawah jembatan dekat kawasan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang.

Nanda Hadiyanti dalam artikelnya yang dimuat Tempo.co dengan judul “Hubungan Mitos Hujan Saat Imlek dengan Rekayasa Hujan” menyatakan, masyarakat seringkali berpikiran bahwa, perayaan tahun baru Cina atau yang dikenal dengan sebutan Imlek, erat kaitannya dengan hujan. Sebagian orang menganggap, turunnya hujan di hari Imlek akan membawa keberkahan sepanjang tahun.

Menurut Nanda, Imlek adalah perayaan yang dilakukan berdasarkan tradisi. Perayaan ini bukan merupakan hari besar sebuah agama. Orang yang bukan beragama Konghucu namun tapi keturunan Tionghoa masih ikut merayakan. Sedangkan hubungannya dengan mitos hujan hanya kepercayaan saja.

Tahun baru Imlek memang merupakan perayaan terpenting bagi orang Tionghoa. Perayaan tahun baru Imlek dimulai di hari pertama bulan pertama pinyin: zhēng yuè menurut penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas (pada saat bulan purnama). Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Imlek sangat beragam, dengan tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru, serta penyulutan kembang api.

Dalam kalender Gregorian, Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya, antara tanggal 21 Januari sampai 20 Februari. Sementara dalam kalender Tionghoa, titik balik mentari musim dingin harus terjadi di bulan 11, yang berarti Tahun Baru Imlek biasanya jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik mentari musim dingin (dan kadang yang ketiga jika pada tahun itu ada bulan kabisat). Dalam budaya tradisional di Tiongkok, lichun adalah waktu solar yang menandai dimulainya musim semi, yang terjadi sekitar 4 Februari.

Di Indonesia, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahanSoeharto melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002 Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003.

Terlepas dari itu semua, warga Kota Kupang dan sekitarnya juga percaya kalau perayaan tahun baru Cina atau Imlek, punya kaitan erat dengan hujan. Meskipun terkadang, ketika tahun baru Cina datang setiap tahunnya, cuaca di Kota Kupang dan sekitarnya cukup cerah. Walau tidak meyakini kepercayaan warga Thionghoa atau keturunan Thionghoa, namun warga Kota Kupang dan sekitarnya percaya kalau warga warga keturunan Thionghoa punya keyakinan seperti itu.

Walau hubungan hujan dan Imlek cuma mitos dan mungkin terjadi hanya karena perhitungan perbintangan yang mungkin jatuh saat puncak musim hujan, namun yang paling penting adalah banyaknya hujan pasti menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat Kota Kupang dan NTT pada umumnya. Apalagi NTT dikenal sebagai provinsi dengan curah hujan rendah, cuma 3-4 bulan dalam setahun.

Hujan yang turun lebat di Kota Kupang sejak sebelum hingga sesudah Imlek tahun 2017 ini, pasti memberi anugerah tersendiri. Yakinlah…Tuhan memberkati.. (*)

 

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top