Nasional

Ansy Lema Sebut Jokowi Antitesis dari Kebanyakan Politisi dan Birokrat

TEROPONGNTT, KUPANG – Konstelasi Pilpres 2019 semakin memanas. Narasi politik yang beredar di ruang publik pun beragam. Kedua kubu, baik poros petahana maupun oposisi berjuang keras untuk mendongkrak elektabilitas.

Di sisi lain, sosok para kontestan juga sepertinya tak pernah luput dari sorotan publik. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat gaya dan pendeketan politik yang dimuculkan ke ruang percakapan tidak saja menjadi kunci sekaligus pusat perdebatan tetapi juga menjadi rujukan pemilih dalam memetakan dukungan.

Salah satu kandidat yang selalu disoroti akhir-akhir ini adalah Joko Widodo. Gaya dan pendekatan politik yang menjadi kekhasan sang petahana itu selalu memancing opini publik.

Meskipun banyak yang menilai gaya Jokowi turun ke bawah, menyapa masyarakat pinggiran merupakan strategi politik jelang pilpres yang penuh dengan pencitraan, tetapi bagi sebagian orang Jokowi mampu menunjukkan kedekatannya dengan masyarakat dan turut merasakan apa yang dialami masyarakat.

Pengamat politik Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) mengatakan, sosok Jokowi merupakan antithesis politisi dan birokrat kebanyakan di Indonesia. Hal itu yang membuat Jokowi bagaikan magnet yang mampu menarik simpati sekaligus melipatgandakan dukungan pemilih.

Di mata mantan aktivis 98 itu, Jokowi adalah tipe politisi yang jarang dijumpai di Indonesia. Kehadirannya menjadi sebentuk narasi perlawanan terhadap gaya politisi dan prilaku pejabat publik tanah air hari-hari ini.

“Jokowi adalah model politisi langka. Gaya politik Jokowi tak lazim dan sangat bertolak belakang dengan sepak terjang politisi dan prilaku pejabat publik yang jamak disaksikan masyarakat,” ungkap Ansy di Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Apa yang disampaikan caleg DPR RI Dapil NTT II itu bukan tanpa alasan. Ansy kemudian menyodorkan sejumlah indikator yang menegaskan posisi Jokowi yang dinilalinya sebagai antithesis dari politisi dan birokrat kebanyakan.

Pertama, Jokowi sungguh menampilkan sosoknya sebagai orang biasa, bukannya orang besar. Pendapat Ansy sebetulnya tak pernah terlepas dari prilaku elit yang sering diekspose ke ruang publik dengan gaya dan mental tuan dan tak jarang mengkultuskan diri sebgai penguasa yang harus dilayani.

“Hal ini jelas berbeda dengan prilaku yang sering ditunjukkan banyak politisi yang mengidap mentalitas tuan, gemar diperlakukan sebagai penguasa yang mesti dihormati, dilayani, bahkan ditakuti,” tegas Ansy.

Dengan memosisikan dirinya sebagai orang biasa, menegasakan bahwa Jokowi lebih suka bertindak sebagai pelayan publik. Gaya politik Jokowi, demikian Ansy, sangat populis, down to earth, tidak elitis sebagaimana para politisi maupun pejabat publik umumnya.

Kedua, Jokowi tidak pernah menampilkan dirinya sebagai orang asing ketika hendak berinteraksi dengan masyarakat. Ia juga tak pernah mengambil jarak sebagaimana yang sering dilakukan elit kebanyakan di negeri ini yang seolah menjadi sangat asing ketika harus berada bersama masyarakat.

Sementara di sisi lain, mayoritas politisi dan pejabat justru menjadi sangat asing saat bertemy warga miskin. Jokowi benar-benar merakyat. Bahkan menurut Ansy, mantan wali kota Solo itu seolah menjadi bagian dari masyarakat kelas bawah.

“Kehadirannya di tengah warga miskin tida memperlebar kesenjangan, malah justru mendekatkan jarak dengan masyarakat miskin yang dikunjunginya. Masyarkat seolah menemukan diri mereka yang lain dalam sosok seorang Jokowi,” ungkap Ansy.

Ketiga, sebagai pemimpin, demikian Ansy, Jokowi memiliki kelebihan yakni kata dan lakunya sejalan. Kepeduliannya terhadap miskin misalnya, sungguh ia buktikan melalui kinerjanya. Sementara kebanyakan politisi menurut Ansy, hanya piawai berpidato, namun miskin implemntasi.

Bagi Ansy, cara Jokowi mengucapkan pidatonya adalah melalui tindakan nyata. Ia bukan tipe pemimpin yang menghabiskan waktunya dengan rapat di ruangn ber-AC, tetapi turun lapangan untuk memimpin dan mengawasi langsung program pembangunan yang tengah dijalankan.

“Hanya dengan itu, sebagai pemimpin, Jokowi bisa memastikan apalah agenda pembangunan yang tengah dilakukan berjalan lancar atau tidak,” ungkapnya.

(*/Djolan Rinda )

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top