Ekbis

Agar TdF dan TdT Berdampak Bagi Pelaku Pariwisata, Yohannes Rumat Sebut Dua Hal Sebagai Solusi

TEROPONGNTT, KUPANG – Anggota DPRD NTT, Yohanes Rumat menyebut dua hal sebagai solusi jika ingin kegiatan promosi pariwisata Tour de Flores (TdF) dan Tour de Timor (TdT) berdampak langsung bagi pelaku pariwisata dan masyarakat kecil. Solusi itu penting dilakukan jika ingin TdF dan TdT tidak sekedar kegiatan promosi pariwisata yang digelar rutin begitu saja.

Anggota DPRD NTT, Yohanes Rumat mengatakan hal ini ketika dimintai komentarnya, Kamis (13/7/2017). Sebelum menjadi anggota dewan, Yohanes Rumat adalah salah satu pelaku pariwisata dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies/ASITA) NTT.

Agar kegiatan TdF dan TdT serta kegiatan promosi pariwisata lainnya bisa berdampak langsung pada pelaku pariwisata dan masyarakat kecil, solusi pertama yang perlu dilakukan pemerintah menurut Yohannes Rumat,  adalah perlunya upaya memberdayakan pelaku pariwisata yang ada di NTT, terutama ASITA, PHRI dan juga HPI.

“Saat ini ASITA NTT sedang menggelar Komodo Travel Mart 2017 yang bertujuan mencari pasar baru wisatawan domestik dan mancanegara, dengan cara mempertemukan para penjual dan para pembeli paket wisata. Yang diundang ke NTT itu adalah pelaku penjual dan pembeli paket wisata,” kata Rumat.

Komodo Travel Mart, menuru Rumat, akan mengemas prodak-prodak wisata berupa obyek wisata alam, budaya dan buatan manusia, prodak kamar hotels dan restorant, prodak transportasi laut, udara dan darat, prodak guide bahasa Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman. Komodo Travel Mart juga mengemas prodak study banding dan penelitian, prodak tour kapal pesiar untuk fulday tour dan halfday tour, prodak special seperti Semana Santa Larantuka, prodak Pasola di Sumba, prodak penangkapan ikan paus di Lembata dan lainnya.

Sementara solusi kedua, kata Rumat, para pelaku pariwisata mendatangi pusat-pusat distribusi wisatawan potensial, baik itu domestik maupun mancanegara. Pusat sumber wisatawan domestik di Indonesia adalah kota-kota besar yang ada di pulau Jawa, Bali, Sumatra dan Kalimantan.

Sementara pusat-pusat distribusi wisatawan asing di berbagai evant pariwisata dunia dan Asia, kata Yohanes Rumt, Juga harus aktif didatangi, sehingga bisa melakukan bisnis to bisnis. “Disinilah peran pemerintah diharapka untuk ikut berpartisipasi guna membiayai atau memfasilitasi para pelaku wisata, bukan pemerintah yang datang kesana tetapi pelaku pariwisata yang kesana,” kata Yohanes Rumat. (nia)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top