Nasional

Acry Deo Datus Bangga Bisa Jadi Doktor Pertama Jebolan Undana

TEROPONGNTT, KUPANG – Wajah Drs Acry Deo Datus, MA tampak berseri-seri ketika mendengar Rektor Undana, Prof Fred Benu mengumumkan bahwa dirinya dinyatakan lulus sidang promosi doctor dengan nilai cum laude dan berhak menyandang gelar doctor. Apalagi Prof Fred Benu mengucapkan profisiat karena Drs Acry Deo Datus, MA menjadi doctor pertama jebolan Universitas Nusa Cendana (Undana).

Drs Acry Deo Datus, MA menjalani sidang promosi doctor di aula gedung rektorat lama Undana Kupang, Kamis (15/12/2016) sore. Sebanyak 20-an professor dan doctor menjadi pengujinya dalam sidang promosi doctor yang berlangsung sekitar dua jam lebih itu. Rektor Undana, Prof Fred Benu memimpin langsung jalannya sidang promosi doctor yang juga diikuti beberapa professor dari luar Undana termasuk dari Australia.

Setelah dinyatakan lulus dan dinyatakan berhak menyandang gelar doctor, Rektor Undana, Prof Fred Benu sebagai pimpinan sidang promosi doctor, mempersilahkan Doktor Acry Deo Datus menancapkan paku pertama pada tiang bendera  universitas sehingga namanya terpatri dalam sejarah sebagai doctor pertama jebolan Program Pasca Sarjana Undana. Tepuk tangan meriah dari ratusan pengunjung dan keluarga yang menyaksikan langsung jalannya sidang promosi doctor pun bergema.

Setelah sidang promosi doctor Progam Pasca Sarjana Undana ditutup, Doktor Acry Deo Datus langsung mendapat ucapan selamat dari para professor dan doctor pengujinya, serta dikerumuni para dosen dan keluarga serta mahasiswa pasca sarjana lainnya yang turut hadir. Tidak sedikit juga yang meminta foto bersama dengan doctor berdarah Maumere-Kabupaten Sikka ini.

Tampak pula hadir dalam acara sidang promosi doctor ini, ibu Adinda Lebu Raya, istri dari Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, pengurus DPD PDIP NTT, Kristo Blasin serta sejumlah kerabat dan pejabat pemerintahan lainnya. Semuanya mengucapkan selamat dan turut berbahagia dengan kesuksesan Doktor Arcy Deo Datus dibidang pendidikan.

Selama ini Doktor Acry Deo Datus berprofesi sebagai dosen ilmu administrasi negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Undana. Menjelang usia pensiunnya sebagai dosen, alumni magister administrasi negara dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini justru memilih melanjutkan pendidikan doctoral di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Hal ini mencengangkan karena gelar doctor disandang ketika Doktor Acry Deo Datus menginjak usia 72 tahun.

Untuk mencapai pendidikan puncak ini, Doktor Acry Deo Datus mempertanggungjawabkan disertasinya berjudul : Etnokrasi Dalam Pemerintahan Provinsi NTT (Studi Tentang Etnisitas Dalam Birokrasi dan Persepsi Terhadap Pelayanan Publik Pada Pemerintahan Provinsi NTT Pasca Pilkada 2003 dan 2013). Sebuah disertasi yang menantang karena menyoroti susunan birokrasi pemerintah daerah NTT yang cenderung menempatkan para pejabat strukturalnya berdasarkan factor agama, suku dan ras walau juga mempertimbangkan kemampuan kualitas dan kepangkatan.

Prof Alo Liliweri menjadi promotor yang mengajukan Doktor Acry Deo Datus untuk menjalani sidang promosi doctor guna mempertanggungjawabkan disertasinya. Hasilnya pun memuaskan setelah berbagai pertanyaan, saran dan pendapat para profoser dan doctor penguji mampu dijelaskan dan dipertanggungjawabkan oleh Doktor Acry Deo Datus.

“Saya sangat bahagia dan bangga bisa menjadi doktor pertama lulusan Program Doktor Ilmu Administrasi Program Pasca Sarjana Undana. Setelah saya pasti akan muncul banyak doktor jebolan Universitas Nusa Cendana (Undana) nantinya,” kata Doktor Arcy Deo Datus kepada para wartawan.

Doktor Acry Deo Datus mengatakan, pendidikan tidak mengenal usia. Karena itulah, meski sudah berusia 72 tahun, ia masih bersemangat untuk menyelesaikan studi doktornya di Undana.

Ia memilih program pasca sarjana Undana sebagai tempat study doktornya karena kualitas Undana yang tidak berbeda dengan universitas atau perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Apalagi Undana memiliki banyak professor dan program pasca sarjana Undana bekerja sama dengan sejumlah universitas ternama di Indonesia bahkan dengan universitas ternama di Darwin Australia. (nia)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top