Daerah

Musrenbangkel Kelurahan Belo Tahun 2019 Tidak Seperti Musrenbangkel Tahun-Tahun Sebelumnya

TEROPONGNTT, KUPANG – Musyawarah Rencana Pembangunan Kelurahan (Musrenbangkel) di Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang digelar, Rabu (13/2/2019). Sayangnya, musrenbangkel kali ini terkesan lebih sedikit peserta dibanding Musrenbangkel tahun-tahun sebelumnya.

Pada musrenbangkel yang digelar di aula Kantor Kelurahan Belo dan dibuka Camat Maulafa, Lodiwik Djugulape ini, terlihat banyak kursi yang kosong karena beberapa ketua RT tidak hadir. Sesuai informasi yang dihimpun Teropongntt.com, musrenbangkel hanya dihadiri 8 Ketua RT dan empat Ketua RW. Beberapa ketua RT dan ketua RW tidak hadir.

Ini merupakan musrenbangkel pertama sejak Robi Lona menjabat sebagai Lurah Kelurahan Belo. Padahal seharusnya para ketua RT dan ketua RW semua hadir supaya bisa menyampaikan aspirasi masyarakat dari setiap RT dan RW di wilayah masing-masing untuk diakomodir dalam rencana pembangunan.

Camat Maulafa, Lodiwik Djugulape, saat membuka musrenbangkel ini mengatakan, budaya gotong royong di tengah masyarakat mesti terus digalakan. Hal ini bermaksud supaya jangan menunggu anggaran karena kondisi anggaran pemerintah yang terbatas. Perlu ada terobosan dan keterlibatan masyarakat dalam lingkungn masing-masing.

Lodiwik Djugulape juga mengingatkan, agar usulan yang disampaikan dalam musrenbangkel adalah hal prioritas. Sehingga dapat disesuaikan dengan ketersediaan anggaran pembangunan dari pemerintah.

Sementara Ketua RW 03 Kelurahan Belo, Gregor Takene yang dimintai komentarnya, mengatakan, apa yang disampaikan Camat Maulafa sebenarnya sudah dilakukan oleh warga RW 03. Pada tahun 2018 lalu, warga RW 03 patungan menyewa alat berat untuk membuka jalan baru yang menghubungkan wilayah Kelurahan Belo dengan wilayah Desa Oelomin Kabupaten Kupang, khususnya di Dusun Atonifui yang berbatasan langsung dengan wilayah Kelurahan Belo.

Namun demikian, ketika disinggung mengenai banyaknya kursi yang kosong karena ada ketua RT dan RW yang tidak mengikuti musrenbangkel, Gregor Takene mengaku tidak mengetahui persis alasannya. Walau demukian, Gregor Takene berharap, aspirasi masyarakat dari semua RT di wilayah Kelurahan Belo bisa tetap diakomodir dalam musrenbangkel tersebut.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top