Daerah

Ini Dia Penegasan Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, M. Abdul Khak kepada Wartawan Media Daring di Kupang

TEROPONGNTT, KUPANG — Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud, M. Abdul Khak menegaskan beberapa hal saat membuka kegiatan Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar bagi Media Massa, Guru, Pejabat Pemerintah dan Siswa Sekolah, yang digelar Kantor Bahasa Provinsi NTT di Hotel Neo Eltari Kupang, Senin (12/8/2019).

Abdul Khak mengatakan, dewasa ini bahasa indonesia semakin diminati di tingkat mancanegara. kecendrungan orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia semakin bertumbuh ke arah positif, dan hal ini bisa dilihat dari permintaan akan pengiriman pengajar-pengajar bahasa indonesia ke luar negeri yang terus meningkat.

“Sudah selayaknya kita sebagai warga negara indonesia merasa bangga dan terus berupaya memartabatkan bahasa Indonesia dalam berbagai lingkup komunikasi, baik formal maupun nonformal serta dalam bahasa lisan ataupun tertulis,” kata Abdul Khak.

Penggunaan bahasa indonesia yang baik, benar, serta tepat, kata Abdul Khak, sangat diperlukan baik di lingkungan pemerintahan, di lingkungan pendidikan, maupun di media massa. Pada lingkungan pemerintahan, penggunaannya sebagian besar adalah untuk keperluan tata naskah dinas seperti surat-menyurat dan pembuatan dokumen resmi. Pada lingkungan pendidikan, penggunaannya yang utama adalah untuk pengajaran di kelas, selain juga untuk surat-menyurat.

Berbeda dengan dua lingkup sebelumnya, menurut Abdul Khak, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkup media massa bukan untuk lingkungan internal dan bukan pula dalam format serta bentuk yang kaku. penggunaan bahasa Indonesia di media massa harus tetap luwes dan memiliki tingkat keberterimaan yang tinggi di masyarakat dan tetap harus baik dan benar, juga yang paling utama adalah penggunaan bahasa yang praktis.

“Penggunaan dan pemunculan kosakata bahasa Indonesia yang unik atau jarang digunakan/istilah-istilah atau kata-kata baru sangat diperlukan serta akan menjadi nilai tambah bagi suatu media massa dari aspek bahasa. Ini juga sebagai bentuk fungsi media massa sebagai corong terdepan dalam penggunaan bahasa Indonesia,” katanya.

Sejak kecil, kata Abdul Khak, kita tentu sudah mulai menggunakan dan mempelajari bahasa Indonesia karena fungsi sebagai bahasa indonesia sebagai pengantar di lembaga pendidikan. namun dawasa ini, semakin maju peradaban, semakin kacau juga penggunaan bahasa Indonesia kita. Kita sering membenarkan yang biasa, padahal seharusnya kita membiasakan yang benar. Banyak contoh di mana kita membolak-balikkan penggunaan kata.

Penggunaan bahasa indonesia di media massa, demikian Abdul Khak, juga memiliki fungsi pendidikan seperti di lingkungan pendidikan tetapi dengan lingkup yang jauh lebih luas. Pembaca atau pelanggan media massa berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta kosakata unik atau yang jarang digunakan di media massa akan berdampak pada melembaganya bahasa Indonesia pada keseharian masyarakat.

“Masyarakat akan terbiasa menemui dan menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar melalui jalur media massa,” kata Abdul Khak.

Dikatakan Abdul Khak , kita mesti belajar dari negara lainnya bahwa kebiasaan penggunaan bahasa nasional yang baik dan benar akan membawa kebanggaan karena dengan demikian segenap warga negara mengetahui dan memahami prinsip dan standar penggunaan bahasa secara baik dan benar. Bila sudah demikian, kampanye penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional akan makin mudah dilakukan.

Para ekspatriat yang sedang bertugas di indonesia pun, katanya, tak jarang mempelajari atau setidaknya membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia dengan membaca media massa.

“Dalam konteks NTT, kita perlu menempatkan bahasa indonesia di tempat yang sepatutnya. Kita memiliki kekayaan bahasa daerah yang begitu banyak, tentu kita tidak mengingini bahasa-bahasa itu punah karena kebiasaan kita dalam komunikasi. Dalam ranah keluarga, kita tetap harus mengajari atau membiasakan anak-anak kita bahasa daerah, karena itu merupakan identitas kedaerahan asal usul kita,” kata Abdul Khak.

Di kantor atau lembaga pendidikan, tambah Abdul Khak, tentu kita harus menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi pemersatu, sambil tetap mempelajari bahasa asing untuk menghadapi tantangan zaman.

“Atas dasar itulah, saya pikir penting sekali rasanya untuk menggelar penyuluhan penggunaan bahasa Indonesia pada berbagai ranah dan lingkup instansi. Selain melibatkan kawan-kawan wartawan, kami turut melibatkan pihak pemerintah & pendidik bahkan anak-anak didik sebagai peserta dengan harapan terjadi sinergi dan perubahan secara luas, tidak hanya mengandalkan satu pihak sebagai ujung tombak. Anak-anak didik kita ini yang sekarang masih duduk di bangku SMP dan SMA suatu saat nanti juga akan menjadi pendidik, birokrat, atau jurnalis. Merekalah masa depan bangsa ini dan mereka pula yang akan menggantikan kita,” kata Abdul Khak.

Sebanyak 45 wartawan media daring atau media online mengikuti kegiatan penyuluhan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di media massa, yang digelar Kantor Bahasa Provinsi NTT ini.

(max)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top