Daerah

GP Ansor NTT Dukung Pemerintah Libas Kelompok Radikalisme

TEROPONGNTT, KUPANG — Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta pemerintah NTT lebih serius menyikapi tantangan berat kelompok radikal. Permintaan GP Ansor NTT ini guna merespon berbagai isu sesuai hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) GP Ansor yang berlangsung selama dua hari di Jakarta, Kamis dan Jumat (7-8/11/2019).

“Menindaklanjuti hasil Rakornas, Sikap GP Ansor Wilayah Provinsi NTT adalah berharap kepada pemerintah, khusus kepada Menteri Agama, Fachrul Razi, melibas radikalisme. Bukan semata-mata dari aspek simbolik-parsialistik yang digunakan, namun akan tetapi juga pada konsentrasi gerakan, pada aspek ideoligi dan system, agar bisa mendukung secara gamblang tujuan Presiden Jokowi memberantas radikalisme,” ungkap Ketua PW Ansor NTT, Ajhar Jowe kepada awak media, Jumat (8/11/2019).

Selain kepada Menteri Agama, dengan isu yang sama untuk memberantas radikalisme, kata Ajhar Jowe, GP Ansor juga mendesak pemerintah daerah Gubernur dan para bupati/Walikota se-NTT, harus berkomitmen dengan merespon gerakan-gerakan oleh kelompok yang menentang ideologi Pancasila.

Menurut Ajhar, organisasi yang dianggap radikal, secara masif dan terus melakukan agenda yang mengatasnamakan agama perlu ada antisipasi. “Apapun gerakan yang mengatasnamakan agama dengan menolak Pancasila sebagai ideologi, wajib untuk diperangi kelompok tersebut,” kata Ajhar.

Dikatakan Ajhar, keinginan Presiden Jokowi di periode kedua adalah serius memberantas radikal melalui empat kementerian yang sama-sama memdorong demi mewujudkan secara total dalam konteks pemberansan.

GP Ansor yakin, kata Ajhar, pemerintah punya kekuatan melalui birokrasi untuk bisa mendeteksi guna benar mencapai tujuan.

“Memang kelompok radikal hari ini, mendesain berbabagai cara untuk melakukan gerakan-gerakan, dan akan tidak mudah dibaca oleh masayrakat,” kata pria yang sering disapa AJ ini.

Dijelaskan AJ, sejauh ini sudah tampak muncul kelompok yang anti Pancasila tetapi mereka sendiri berani mengusung tema Pancasila. “Ini kami melihat pola baru yang akan dilakukan tetapi isi kegiatan tetap soal perjuangam serta misi utama adalah khilafah,” kata AJ.

(*)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top