Daerah

Gelar Pertemuan Dengan Awak Media di Acara Sasando Dia, Ini Yang Disampaikan Perwakilan BI dan OJK NTT

TEROPONGNTT, KUPANG — Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT kembali menggelar pertemuan dengan awak media yang dikemas dalam acara Sasando Dia “Sante-Sante Baomong Deng Media”. Ini merupakan Sasando Dia yang kedua, sejak BI dan OJK NTT bersepakat untuk menggelar pertemuan rutin dengan kalangan media secara bersama-sama.

Acara Sasando Dia digelar di aula lantai 2 gedung Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT, Selasa (9/7/2019) dan dihadiri 20-an wartawan. Turut hadir di acara ini, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Keuangan NTT,  Lydia Kurniawati Christyana, M.M, Asisten Perekonomian Setda NTT, Semuel Rebo, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Wayan Darmawan, Pakar Ekonomi UKAW Kupang, Frids Fanggidae, Wakil Ketua Kadin NTT, Theo Widodo, serta kalangan perbankan dan instansi terkait lainnya.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Nusa Tenggara Timur, Naek Tigor Sinaga mengatakan, pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada triwulan I 2019 relatif cukup baik, tumbuh di atas level nasional. Demikian pula inflasi, relatif lebih rendah dari nasional.

Hal ini, kata Naek Tigor Sinaga, menunjukan kalau pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID)-nya, mampu melakukan pengendalian inflasi secara baik. Meskipun harus tetap waspada, akan kemungkinan terjadinya peningkatan inflasi di akhir tahun yakni saat hari raya Natal dan Tahun Baru 2020.

”Tentunya kita tidak boleh lengah dan harus tetap waspada, terutama terkait dengan inflasi nanti di akhir tahun. Sebagaimana biasa kita alami, biasanya di akhir tahun aka nada peningkatan kebutuhan masyarakat untuk merayakan Natal dan Tahun Baru,” kata Naek Tigor Sinaga.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Robert Sianipar menjelaskan, tugas pokok dan fungsi OJK yakni mengatur, mengawasi, melindungi sektor jasa keuangan. Maksudnya, agar sektor keuangan yang didalamnya ada perbankan, pasar modal dan industri keuangan lain bisa berjalan teratur dalam mendukung perekonomian daerah khususnya di NTT.

Menurut , Robert Sianipar, perbankan dan seluruh industri jasa keuangan di NTT saat ini dalam keadaan sehat. Sampai dengan posisi Mei 2019, total aset perbankan sudah mencapai Rp 37 triliun, dengan kredit kurang lebih Rp 30 triliun dan dana pihak ketiga sekitar Rp 27 triliun.

Yang menjadi tanggung jawab langsung oleh OJK Provinsi NTT adalah lembaga jasa keuangan yang berkantor pusat di wilayah NTT yakni Bank NTT dan 12 Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Indikator keuangan untuk BPR terutama rasio Non Performing Loan (NPL) relatif terjaga pada kisaran dua persen lebih sedikit, masih jauh di bawah ambang batas lima persen.

(max)

 

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top