Daerah

Beginilah Kisah Legenda Terbentuknya Danau Tiwu Lewu di Kabupaten Ende

TEROPONGNTT, ENDE – Danau Tiwu Lewu di Desa Kebirangga Tengah, Kecamatan Maukaro, merupakan salah satu destinasi wisata pilihan di Kabupaten Ende, Pulau Flores. Terbentuknya Danau Tiwu Lewu ternyata memiliki cerita legenda yang menarik.

Seperti dirilis cahayaratesuba.blogspot.com, kisah menarik terbentuknya Danau Tiwu Lewu berawal dari tindakan dua ibu yang sama-sama memiliki bayi kecil. Perbuatan kedua ibu ini ternyata membuat alam semesta marah dan terjadilah bencana yang berakibat terbentuklah danau tersebut.

Seperti ditulis Maxi Marho dalam cahayaratesuba.blogspot.com, di jaman dahulu kala, hiduplah dua orang ibu yang masing-masing memiliki bayi di sebuah perkampungan kecil di sebuah lereng bukit. Sekarang, bukit tersebut dikenal dengan nama Rabakawa. Perkampungan ini berada di tengah kawasan hutan dan sangat terisolir.

Kehidupan warganya saat itu, boleh disebut masih primitif. Mereka hidup dari hasil bercocok tanam dengan bertani ladang dan kadang-kadang berburu rusa, kerbau dan juga babi hutan serta binatang lainnya. Warganya hidup damai dan masih menyembah berhala.

Meski perkampungan berada di lereng bukit  dan dekat pegunungan, namun kawasan di kaki bukit terdapat dataran yang luas. Dataran di kaki bukit inilah yang dijadikan sebagia ladang untuk bercocok tanam.

Biasanya, para petani juga membangun pondok kecil di ladang yang bahkan berfungsi sebagai rumah kedua bagi para petani. Kalau sedang bekerja di siang hari, petani akan menghabiskan waktu sepanjang hari di ladang, makan siang di pondok, dan baru kembali ke perkampungan pada malam harinya.

Suatu hari, ketika para warga semua berangkat ke ladang, yang tinggal di perkampungan hanyalah dua orang ibu yang memiliki bayi tersebut.  Menjelang tengah hari, salah satu ibu bersiap untuk memasak, tetapi tidak memiliki api.

Karena tidak bisa meninggalkan bayinya sendiri yang masih kecil, ibu ini kemudian berteriak memanggil ibu yang satunya yang berada di rumah sebelah rumahnya. Dari rumahnya ia bertanya, apakah tetangganya itu memiliki bara api, supaya diberikan kepadanya.

Karena antara rumah yang satu dengan rumah yang lain jaraknya agak jauh, ibu yang satunya juga tidak berani  meninggalkan bayinya sendiri untuk membawa api ke tetangganya itu.  Ibu ini menjawab, kalau dirinya memiliki api tetapi tidak bisa mengantarnya karena tidak bisa meninggalkan bayinya.

Mungkin juga kedua ibu ini sama-sama tidak berani keluar dari rumah masing-masing, karena di kampung kecil yang sedang sepi itu cuma tingga mereka berdua bersama bayi masing-masing. Hanya ada hewan peliharaan berupa anjing yang menemani mereka.

Setelah berpikir sejenak, kedua ibu ini menemukan jalan keluarnya bagaimana mereka bisa berbagi api. Karena di jaman dahulu belum ada yang namanya korek api ataupun pemantik.  Mereka kemudian mendapatkan ide untuk mengikat kayu yang memiliki bara api pada ekor anjing supaya anjing bisa membawanya dari rumah yang satu ke rumah yang lain.

Ibu yang memiliki api kemudian memanggil seekor anjing di dekat rumahnya. “Kuk, Kuk, Kuk..,” katanya. Ketika anjing datang mendekat, ia segera mengambil kayu api yang ada bara apinya, lalu mengikat batang kayu yang ukurannya tidak terlalu besar pada ekor anjing tersebut. Setelah itu ia berteriak memberitahukan ibu yang satunya untuk memanggil anjing tersebut.

Selanjutnya, ibu yang membutuhkan api memanggil anjing tersebut. “Kuk Kuk kuk…,” kata ibu itu. Anjing tersebut kemudian berlari menuju rumah ibu yang memanggilnya. Ibu tersebut lalu mengambil kayu api yang memiliki bara api dari ekor anjing itu dan dipakainya untuk menyalakan api di rumahnya dan memasak.

Ketika  malam hari tiba dan para warga semua pulang dari ladang ke perkampungan, kedua ibu itu kemudian menceritakan apa yang terjadi kepada suami masing-masing dan peristiwa itu tersiar kepada semua warga. Termasuk aksi lucu anjing saat membawa bara api yang panas di ekornya dari rumah ibu yang satu ke rumah ibu yang lain.

Peristiwa tersebut terrnyata menjadi peristiwa lucu dan mengundang tawa ria para warga perkampungan.  Dan ternyata, apa yang terjadi merupakan peristiwa langkah, peristiwa aneh dan peristiwa lucu yang menyalahi tradisi dan adat budaya yang dianut dan dipercaya warga setempat.

Alam pun menjadi marah. Seketika itu langit menjadi mendung dan hujan lebat pun turun diserta angin kencang. Gemuruh menderu dan petir menggelegar bersahut-sahutan. Malam itu hujan turun sangat deras dan terjadi bencana alam.

Kawasan perkampungan menjadi longsor, tergenang air dan berubah menjadi danau, sementara warga tak berani keluar dari dalam rumah masing-masing. Penguasa alam benar-benar marah  dengan tingkat manusia penghuni perkampungan tersebut.  Tanah pun terbelah.

Kawasan perkampungan terendam air dan rumah-rumah warga yang berbentuk rumah kolong semuanya  roboh. Semua warga penghuni perkampungan termasuk dua ibu tersebut meninggal dunia terendam air yang menjadi danau  dan merendam perkampungan itu. Hanya ada satu-dua warga yang berhasil lolos.

Peristiwa tenggelamnya kampung kecil ini pun tersiar kemana-mana.  Danau yang terbentuk dari tenggelamnya perkampungan tersebut kemudian diberi nama Danau Tiwu Lewu oleh masyarakat sekitar. Sayangnya tidak ada cerita, kemana warga yang berhasil lolos dari peristiwa tenggelamnya kampung kecil itu.

Dalam bahasa daerah setempat, Tiwu berarti air yang tergenang dalam jumlah banyak dan membentuk danau. Sementara Lewu berarti di kolong rumah karena perumahan warga di perkampungan tersebut adalah rumah panggung atau rumah kolong.

Karena itu, Tiwu Lewu berarti genangan air yang besar dan membentuk danau, yang awalnya terbentuk dari genangan air di bawah kolong rumah. Setelah kejadian tenggelamnya perkampungan kecil yang berubah menjadi Danau Tiwu Lewu ini, di danau tersebut kemudian muncul sejumlah buaya. Tidak diketahui persis dari mana asal usul buaya tersebut.

Namun, masyarakat sekitar berkeyakinan, kalau manusia yang meninggal dalam peristiwa tenggelamnya kampung kecil menjadi Danau Tiwu Lewu, telah berubah wujud menjadi buaya. Karena itu, sampai saat ini masyarakat Desa Kebirangga Tengah dan sekitarnya tidak ada yang berani mengganggu apalagi membunuh buaya-buaya di Danau Tiwu Lewu.

Masyarakat yakin, buaya di Danau Tiwu Lewu adalah jelmahan dari nenek moyang yang meninggal dalam kejadian terbentuknya danau tersebut. Apalagi, buaya-buaya yang ada di Danau Tiwu Lewu juga tidak mengganggu warga sekitar yang datang berkunjung ke danau itu.

Saat ini, Danau Tiwu Lewu sudah menjadi salah satu obyek pariwisata pilihan di Kabupaten Ende. Danau Tiwu Lewu berlokasi di lereng bukit Rebakawa, wilayah Desa Kebirangga Tengah, Kecamatan Maukaro.  Hanya saja, pengelolaan kawasan wisata Danau Tiwu Lewu belum dilakukan serius oleh Pemerintah Kabupaten Ende. (*/cahayaratesuba.blogspot.com)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top